DLH Sleman : Penghijauan Jangan Ngawur

SLEMAN, SM Network РDinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman mensyaratkan kepada rekanan pelaksana proyek pelebaran jalan, agar melakukan penanaman kembali jika ada pohon yang ditebang.

Dari pengamatan sejauh ini, kata Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya, aturan itu sudah dipatuhi. Contohnya pada kegiatan pelebaran jembatan di Jalan Gito Gati yang dilaksanakan tahun lalu. Di sekitar lokasi telah dilakukan penghijauan dengan jenis tanaman pohon tanjung.

Namun demikian masih ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, terutama menyangkut cara penanaman pohon. “Semisal di daerah Beran ke utara. Disana ditanam tabebuya kuning tapi terkesan ngawur karena jaraknya terlalu dekat, padahal harga tanamannya mahal,” kata Dwi kepada suaramerdeka.com, Rabu (11/3).

Selain cara penanaman, pemilihan jenis pohon juga perlu mendapat perhatian. Sebaiknya dipilih tanaman yang metode perbanyakannya menggunakan biji karena akan menghasilkan pohon akar tunggang.

Berbeda dengan tanaman yang perbanyakannya dengan sistem stek atau cangkok, pohon yang tumbuh condong berakar serabut. Hanya saja, pohon akar tunggang membutuhkan waktu lebih lama untuk proses tumbuh.

“Meski besarnya lama, akar pohon tunggang lebih kokoh dan tidak mudah roboh sehingga tepat ditanam di pinggir jalan. Selain itu juga tidak merusak struktur aspal jalan maupun trotoar,” terangnya.

Dwi menambahkan, penebangan pohon di pinggir jalan karena kegiatan pelebaran adalah hal yang lumrah. Mengingat, infrastruktur jalan digunakan untuk kepentingan bersama. Sebagai solusinya bisa dilakukan penanaman pohon dengan memanfaatkan celah ruang yang ada.

Jika tidak ada sisa tanah yang memadai, bisa diambil alternatif menggunakan bis beton yang ditempatkan di ruang antara jalan dan trotoar. “Hal ini juga sudah dikompromikan dengan rekan-rekan di DPUPKP. Prinsipnya, kami ikut saja jika harus dilakukan penebangan pohon dengan adanya pelebaran jalan,” pungkasnya.


SM Network

Tinggalkan Balasan