Dipindah Ke Shelter, Pedagang Jatimalang Masih Mengeluh Sepi

PURWOREJO, SM Network – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo berencana melanjutkan penataan kawasan Pantai Jatimalang dengan memindahkan para pedagang yang masih tersisa ke shelter kuliner tahun ini. Untuk itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo berencana membangun 26 unit kios atau shelter kuliner tahap kedua.

Meski demikian, sebagian pedagang yang telah dipindah ke shelter kuliner tahap pertama pada September 2018 lalu ternyata masih mengeluhkan sepinya pembeli di tempat yang baru. Bahkan, belasan unit shelter kuliner belum difungsikan oleh pedagang untuk membuka warung dan justru memilih membuat gubuk di tepi pantai untuk berjualan karena lebih ramai. Pada tahap pertama tersebut ada 20 pedagang yang direlokasi ke shelter kuliner dan akan dilanjutkan tahun ini untuk 26 pedagang tersisa.

Salah satu pedagang yang telah direlokasi ke shelter kuliner tahap pertama, Kemini (53), mengungkapkan, dari 20 pedagang yang dipindah utuk menempati shelter kuliner tahap pertama, separuh sudah berjalan berjualan di tempat baru. Sedangkan separuh lainnya kebanyakan belum berjalan.

Berdasarkan pantauan, separuh yang sudah jalan tersebut yang berada di shelter kuliner sisi timur gardu pandang, karena letaknya lebih dekat akses utama ke pantai dan Taman Plaza Patung Dewaruci. Sedangkan separuh yang berada di sisi barat gardu pandang mayoritas belum difungsikan untuk berjualan, hanya ada dua yang sudah digunakan berjualan.

“Yang sebelah barat karena jauh dari pantai jadi belum ramai. Saya cari yang ramai (membuat warung) ke sini (sebelah selatan Taman Plaza). Karena untuk biaya sekolah dan pondok anak,” ungkap Kemini, kemarin.

Kebanyakan pedagang yang mendapat penempatan di shelter kuliner sisi barat gardu pandang tersebut memilih membuat warung-warung dari bambu di tepi pantai di sekitar Taman Plaza untuk berjualan makanan ringan dan minuman. Ini dilakukan karena di lokasi tersebut lebih ramai pengunjung sehingga pembeli juga lebih banyak.

“Di sana (shelter kuliner) saya buka dua bulan, karena sepi ya pemasukan nol, kondisi ekonomi morat-marit, akhirnya saya pindah ke sini (membuat warung di selatan Taman Plaza),” tutur Kemini.

Jika nantinya diminta untuk pindah lagi menempati shelter kuliner, Kemini mengaku bersedia. Namun ia berharap agar semua warung atau pedagang yang ada di tepi pantai juga dipindah. Sebab, kalau masih ada yang berjualan di tepi pantai maka shelter kuliner akan sepi pembeli karena letaknya agak jauh dari tepi pantai.

“Harapannya di sana (dekat shelter kuliner) juga dikasih hiburan setiap Minggu, jadi biarpun jauh dari pantai pengunjung akan cari yang ramai (ada hiburan),” imbuhnya.

Salah satu pedagang yang sudah buka setiap hari di shelter kuliner, Sutarmi (46), mengaku memang omzet masih jauh dibanding ketika di lokasi lama. Dengan menu khas berupa seafood, selama ini ia mengandalkan pelanggan, tetap ada yang mencari walaupun pindah lokasi.

“Tapi tetap saja harus mulai dari awal lagi. Sekarang (omzet) masih jauh, belum bisa menyamai (di lokasi lama), pelanggan kan juga tidak setiap hari datang,” tutur pemilik warung makan seafood Nazzla Anugrah tersebut.

Meski masih sepi, lanjut Sutarmi, namun kini di akhir pekan sudah mulai ada peningkatan. Apalagi setelah dibangun landscape dan beberapa gazebo di sebelah selatan shelter kuliner. Agar lebih ramai lagi, ia berharap agar Pemkab menyelenggarakan hiburan setiap Sabtu dan Minggu, juga menambah wahana permainan anak seperti kolam renang dan lainnya di depan shelter kuliner.

“Harapannya Dinas juga memberi ketegasan bagi pedagang yang sudah direlokasi untuk menempati. Biar kalau memang gak mau menempati bisa (dialihkan) ditempati yang mau. Kalau ditempati semua, insyaaAllah orang juga datang ke sini,” harapnya.

Permintaan Pedagang

Sementara itu, salah satu pedagang pemilik warung di tepi pantai yang belum ikut direlokasi pada tahap pertama, mengaku bersedia jika akan direlokasi pada tahap kedua mendatang. Hanya saja, ia berharap agar penataannya dilakukan dengan baik dan tidak merugikan masyarakat.

“Kalau seperti saya, karena bukan tanah sendiri ya ikut saja. Tapi kalau dipindah harapannya juga diupayakan agar di sana bisa ramai, biar untuk cari rejeki tetap ada,” ungkap pedagang yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Dalam penataan tersebut, warung atau pedagang yang terdata di Dinparbud sebanyak 46 orang. Relokasi tahap kedua rencananya akan dilakukan untuk 26 warung tersisa yang belum terelokasi tahap pertama. Meski demikian, saat ini juga muncul warung-warung baru di sekitar Taman Plaza yang belum terdata di Dinas.

“Saya memang baru mulai berjualan sejak Lebaran, tapi saya orang sini, dulu juga ikut berjuang membuat ramai, kalau ada kerjabakti-kerjabakti juga ikut. Dulu juga pernah berjualan waktu anak masih kecil. Jadi kalau harus pindah ya harapannya bisa dicarikan tempat, karena kami ikut berjuang,” ungkap salah satu pedagang baru, Tuginah (61).

Sebelumnya, Kepala Dinparbud) Purworejo, Agung Wibowo mengatakan, dalam penataan kawasan Jatimalang, area di depan kios kuliner juga dibangun  wahana-wahana vegetasi atau tanaman-tanaman, gazebo, serta panggung kesenian. Sedangkan area parkir dibangun di belakang kios kuliner.

“Jadi keluar masuknya pengunjung nanti tetap melewati kuliner itu. Harapan kami kuliner juga akan ramai. Di panggung kesenian juga akan kita support dengan kesenian-kesenian untuk tampil di sana, harapan kita bisa lebih ramai lagi,” katanya.


Panuju Triangga

Tinggalkan Balasan