Di Apotek Masker Mulai Langka, Stok di Gudang Farmasi Sleman Terbatas

SLEMAN, SM Network – Setelah merebaknya kabar dua warga Depok, Jawa Barat yang dinyatakan positif terjangkit virus corona, masker menjadi salah satu barang yang paling banyak diburu.

Dari pantauan di sejumlah apotek dan toko swalayan di Sleman, stok masker telah habis. “Sudah habis sejak kemarin,” kata Laila Azimah, salah satu pemilik apotek di Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Selasa (3/3).

Tidak hanya di tingkat ritel, kelangkaan masker juga terjadi di gudang farmasi milik UPT Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman. Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo menyebut, stok masker hanya ada 502.540 piece untuk jenis biasa, dan 2.420 piece jenis N95.

“Sudah sejak satu minggu lalu kami order tapi stoknya di pasaran kosong. Dari pihak distributor juga belum bisa memberikan jawaban kapan barang tersedia,” ungkap Joko.

Dengan kondisi yang serba terbatas ini, pihaknya menerapkan langkah efisiensi. Dinkes telah membuat standar operasional prosedur bahwa hanya pasien yang menderita batuk dan demam tinggi saja yang diberi masker. Sebelum ada wabah corona, masker diletakkan di ruang terbuka di puskesmas dan pasien bebas mengambil.

Namun sekarang, pasien yang akan diberi masker harus dicek terlebih dulu oleh dokter. Sarana alat kesehatan itu hanya diperuntukkan pasien dengan keluhan tertentu seperti tenggorokan sakit, batuk, dan demam. “Di tiap puskesmas disediakan sekitar seribu masker. Jika stoknya menipis, bisa minta ke gudang farmasi,” kata Joko.

Pengadaan masker di Sleman, 30 persennya digunakan untuk antisipasi hujan abu akibat erupsi Gunung Merapi. Dengan estimasi jumlah penduduk Sleman kurang lebih 1 juta jiwa, maka 300 ribu masker peruntukannya bagi korban terdampak hujan abu.
 
Dia pun mengingatkan agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang melakukan penimbunan. Disinggung mengenai ada tidaknya rencana sweeping, Joko berujar butuh koordinasi lebih lanjut termasuk dengan institusi penegak hukum. Sebab dalam hal ini, Dinkes tidak bisa jalan sendiri.

Joko juga meminta masyarakat agar tidak panik terhadap wabah corona. Terlebih, cara penularannya sudah diketahui sehingga bisa diambil langkah antisipasi. Di Sleman sendiri, sejauh ini belum ditemukan warga yang positif terpapar corona.

Kendati, memang ada beberapa pasien dengan gejala mirip Covid-19 namun yang bersangkutan masih dalam pengawasan, dan menunggu hasil uji laboratorium Badan Litbang Kesehatan.

Joko juga meminta masyarakat tidak perlu melakukan aksi borong masker. Menurut dia, penggunaan masker sebenarnya hanya ditujukan bagi orang yang sakit. Jika orang sehat memakai masker, bukan jaminan tidak akan tertular sementara si penderita tidak mengenakan masker.

“Tidak disarankan bagi orang yang sehat karena masker hanya efektif untuk mencegah penularan,” tukasnya.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan