Desa Wisata di Sleman Mulai Dibuka Bulan Ini


SLEMAN, SM Network – Desa wisata di Kabupaten Sleman rencananya kembali beroperasi pada pertengahan September ini, setelah sempat vakum selama kurang lebih enam bulan akibat pandemi Covid-19.”September ini, desa wisata akan serentak dibuka. Tapi mana sajanya, itu tergantung kesiapan masing-masing pengelola, kami tidak pernah menargetkan,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih, Senin (7/9).

Berdasar klasifikasi, jumlah desa wisata yang masih eksis  ada 50 terdiri dari kategori mandiri, berkembang, tumbuh, dan rintisan. Sejak awal didengungkan konsep new normal, desa wisata memang memilih buka paling terakhir setelah destinasi lainnya.

Pasalnya, pengelola merasa masih butuh waktu sosialisasi kepada masyarakat mengenai wisata di masa pandemi.Setelah buka nanti pun, konsepnya akan diubah tidak lagi mass tourism atau wisata yang melibatkan banyak orang. Namun akan lebih mengarah ke konsep wisata keluarga.

“Konsep family itu maksudnya menerima rombongan dalam jumlah kecil, dan keluarga. Karena kalau masih satu keluarga, mudah mengaturnya seperti soal kamar jika mau menginap di homestay, dan tidak ada rasa kekhawatiran tertular Covid,” urai Ning.

Meski belum beroperasi, beberapa desa wisata seperti Kelor dan Pentingsari sudah mulai menunjukkan aktivitas. Semisal, tiap hari Minggu jadi tempat persinggahan goweser. Setelah muncul pandemi, Dispar sudah membuat standar operasional prosedur (SOP) khusus untuk destinasi, termasuk desa wisata.

Hal yang diatur antara lain prosedur penerimaan tamu, dan langkah yang diambil jika ada pengunjung terindikasi Covid-19.”Protokol kesehatan lain seperti penyediaan wastafel, dan masker juga sudah ada ketentuannya,” katanya.

Ketua Forkom Desa Wisata Sleman Doto Yogantoro mengatakan, kesiapan untuk menerima kembali kunjungan wisatawan sudah dilakukan sejak jauh hari, termasuk dengan mengadakan simulasi.

Tidak sebatas menyediakan sarana fisik, pengelola desa wisata juga sudah menyiapkan pola pendaftaran tamu secara reservasi agar lebih mudah dikontrol. Sistem pembayaran pun diarahkan ke sistem non tunai. 

“Sudah sejak Maret, desa wisata tidak menerima tamu. Tapi kami juga tidak ingin terburu-buru karena banyak yang butuh disiapkan,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan