Debat Pamungkas, Kedua Paslon Saling Sindir

MAGELANG, SM Network – Saling sindir mewarnai jalannya debat putaran terakhir pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Magelang tahun 2020 di Gedung Wanita Magelang, Minggu (29/11) malam. Debat dihadiri kalangan terbatas dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi lokal.

Pada sesi pertama, Calon Wali Kota Magelang nomor urut 1, dr Muhammad Nur Aziz menyampaikan, masyarakat Kota Magelang membutuhkan pemimpin yang mampu mempersatukan dan memberdayakan semua kalangan di berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Hal ini sesuai dengan programnya yang ingin masyarakat Kota Magelang sejahtera dan bahagia.

“Sehingga, tidak akan terjadi konflik, intoleran, gerakan radikal, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Sindiran cukup keras dilontarkan Aziz dalam segmen tanya jawab antarpaslon, yakni terkait penanganan Covid-19 di Kota Magelang yang terkesan setengah hati. Ia menilai proses pengetesan swab terhadap penduduk masih sangat rendah. Penanganan terhadap pasien Covid-19 juga terkesan lambat.

“Kondisi Covid-19 di Kota Magelang meningkat, bahkan sehari korban meninggal dunia sampai 18 orang. Di sini saya tidak melihat regulasi daerah, maping juga tidak dilakukan, dan pemeriksaan masih rendah,” katanya.

Sang dokter kembali membuat suasana jadi menghangat lantaran jawaban dari Calon Wakil Wali Kota Magelang nomor urut 2 Windarti Agustina yang mengklaim jika Kota Magelang zona hijau. Dikatakan Windarti, perlakuan Pemkot Magelang sudah sesuai dengan ketentuan dan arahan pemerintah pusat, menyikapi darurat nasional pandemi Covid-19, dengan pemberian bantuan tak terduga (BTT) yang diperpanjang melalui APBD 2021.

“Heran kepada Mbak Windarti, yang katanya Kota Magelang zona hijau. Nanti kita buka lagi, karena sudah zona merah. Akhir-akhir ini juga banyak yang meninggal dunia, tetapi penanganannya belum maksimal. Isolasi secara cepat tidak ada, bahkan di UGD harus menunggu lama,” jelasnya yang mendapat kesempatan menimpali jawaban Windarti.

Aziz juga mengaku heran, lantaran tidak ada ketegasan dari Pemkot Magelang soal antisipasi kerumunan massa. Menurutnya, sebagai seorang kepala daerah, mestinya mampu mencerminkan dan memberikan contoh kepada masyarakat. Apalagi masalah kemanusiaan penanganan pandemi Covid-19.

Menjawab tudingan itu, Calon Wali Kota Magelang nomor urut 2, Aji Setyawan memilih untuk memberikan apresiasi dan penghormatan tinggi kepada para tenaga kesehatan. Aji melihat, peran nakes adalah tokoh kunci, dan berkat perjuangan mereka yang tak kenal lelah, banyak masyarakat yang akhirnya dapat tertolong.

“Pemkot Magelang begitu getol memperjuangkan hak-hak masyarakat dengan intens menyalurkan berbagai bantuan. Pandemi adalah hal yang sangat urgen. Pemkot Magelang telah melakukan rasionalisasi dan refocusing dengan maksimal. Kemudian, pemulihan ekonomi APBD 2021 telah dianggarkan Rp39 miliar, sementara BTT outbreak (2021) dianggarkan Rp15 miliar. Ini wujud keseriusan Pemkot dalam memulihkan mental, moral, dan ekonomi masyarakat di tengah pandemi,” jelas Aji.

Pada sesi yang sama, Aji membalas dengan melontarkan sindiran yang menyebut kata “perubahan” yang terus digaungkan kubu Azis-Mansyur (Aman). Mantan anggota DPRD Kota Magelang dua periode ini menyebut masyarakat Kota Magelang sudah cerdas.

“Masyarakat kita sudah cerdas, yang memang bisa menyelesaikan masalah dengan solusi dan sesuai aturan, bukan yang tiba-tiba datang lalu ngomong perubahan. Padahal, dia sendiri tidak tahu caranya mengubah seperti apa. Dan yang lebih memalukan lagi, bukan yang fotokopi KTP, motong kupon hanya untuk mendapatkan suara,” paparnya.

Calon Wakil Wali Kota Nomor Urut 2 Windarti Agustina juga turut mengeluarkan sindirian kepada kubu Paslon Nomor 1, Aman. Windarti mengungkapkan, jika indeks pembangunan manusia (IPM) Kota Magelang cukup tinggi dengan menduduki peringkat 4 dari 35 kabupaten/kota se-Jateng. Demikian halnya dengan indeks kualitas hidup (IKH) dengan skor 72,79.

“Namun terjadi anomali bahwa perekonomian melambat, angka kemiskinan turun, dan angka pengangguran juga turun. Ini adalah anomali,” tuturnya.

Ditanya masalah anomali tersebut, Aziz justru terjebak dalam pertanyaan dan menganggap bahwa prestasi Kota Magelang di nomor 4 terbaik tak terlalu istimewa. Sebab, menurut Aziz, Kota Magelang masih di bawah Kota Semarang, Solo, dan Kota Salatiga.

Menimpali jawaban Aziz, Windarti kemudian menyindir bahwa, prestasi Kota Magelang soal IPM dan IKH lebih tinggi dari daerah yang selama ini ditinggali Aziz.

“IPM nomor 4 se-Jawa Tengah itu termasuk tinggi. Bahkan, dibandingkan dengan Pemalang, kota Bapak Aziz berasal, termasuk yang terendah di Jateng. Kemudian anomali ini terjadi akibat inflasi 2,19 persen, bukan karena faktor daya beli masyarakat yang turun, melainkan biaya produksi yang naik. Maka, sebagai kepala daerah wajib hadir untuk memberi solusinya,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan