SM/Panuju Triangga - Foto KH Achmad Chalwani

PONDOK, SM Network – Pesantren An Nawawi yang terletak di Dusun Berjan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo resmi didirikan dalam bentuk pengajian syariah pada 1946 oleh KH Nawawi Shiddiq, ketika itu dengan nama Roudlotut Thullab. Walaupun, sebelumnya juga sudah ada pesantren meskipun belum ada anak-anak yang mondok atau tinggal di pesantren, dan masih berfokus pada ilmu thoriqoh saja.

Nama pondok pesantren ini kemudian diubah menjadi An Nawawi, bermula dari usulan wali santri karena nama Roudlotut Thullab sulit diucapkan. “Sehingga kami ganti dengan nama An Nawawi, dari nama orang tua saya (almarhum KH Nawawi –red). Ternyata setelah berubah nama An Nawawi kemajuannya sangat kelihatan, semua bidang,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi, KH Achmad Chalwani, kepada Suara Merdeka, Sabtu (2/5).

Dari berbagai perkembangan tersebut, antara lain yang paling menonjol adalah jumlah santri yang bertambah pesat. Dari semula tahun 1982 hingga 1986 yang baru memiliki sekitar 350 sampai 450 santri, kini ada sekitar 3.000 santri yang menimba ilmu dan tinggal di asrama Pondok Pesantren An Nawawi ini. Selain itu, ada juga santri yang laju.

SM/Panuju Triangga – PONDOK PESANTREN: Pondok Pesantren An Nawawi yang terletak di Dusun Berjan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo.

“Dan santrinya dari hampir seluruh provinsi se-Indonesia. Sebelumnya kebanyakan dari sekitar Kedu, walaupun ada juga yang dari Sumatera dan daerah lainnya,” tuturnya.

Menurut KH Achmad Chalwani, perkembangan yang pesat dari Pesantren An Nawawi ini tak lepas dari doa para guru. Ia mengisahkan, pada tahun 1982 sang guru, KH Mahrus Ali Lirboyo, mendoakan Pesantren An Nawawi dan di-aamiin-i oleh banyak kyai ulama besar ketika itu. Antara lain KH Abdul Haq Watucongol, KH Raden Asy’ari Ndemesan Magelang, KH Abdul Hamid Kajoran Magelang, KH Durmuji Lirab Kebumen, Kyai Raden Ahmad Punduh Magelang, KH Raden Sulaiman Sindurjan Purworejo, dan masih banyak lagi lainnya.

“Apa yang menjadi doa Mbah Mahrus terkabul. Ternyata sekarang santrinya banyak,” ungkapnya.

Di bawah asuhan KH Achmad Chalwani, pendidikan di Pondok Pesantren An Nawawi Berjan dijalankan dengan sistem manajemen modern. Selain itu juga diintegrasikan dengan pendidikan formal dengan mendirikan MTs, MA, dan Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Purworejo.

KH Achmad Chalwani juga masih terus berupaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren ini dengan perluasan tempat tinggal santri, sarana ibadah, dan sarana belajar santri sebagai upaya untuk memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat.

“Orang tua saya (KH Nawawi –red), yang jelas hanya berpesan agar teruskan apa yang menjadi aktivitas Beliau, yaitu mengajar di pesantren, dan melayani dakwah masyarakat,” kenangnya.

Para santri pondok yang menimba ilmu di pasantren ini kisaran usia 13 hingga 24 tahun. Karena kondisi pandemi Covid-19, para santri pun dipulangkan, sesuai dengan anjuran dari pemerintah. Meski demikian, kegiatan belajar para santri tetap berlangsung secara online.

“Sehingga kegiatan Ramadan ini berbeda dengan yang dulu karena ada pandemi Covid-19. Kami laksanakan pengajian pakai live streaming, sehingga yang di rumah tetap bisa mengikuti,” jelasnya.

Pengajian secara online tersebut antara lain dengen membaca kitab-kitab. Diantaranya kitab Kifayatul Atqiya’ yang dibaca langsung oleh KH Achmad Chalwani pada pukul 16.30 hingga 17.30. Kemudian malam hari pukul 21.00 hingga 22.00 membaca kitab Qurrotul Uyun oleh ustadz Nanang Fahrurazi, dan dilanjutkan pukul 22.00 hingga 23.00 membaca Al Barzanji dan Ta’limul Muta’allim oleh Kyai Raden Maulana Alwi SH.

“Biasanya (Ramadan sebelumnya) tidak kurang dari 24 kitab kita baca (dalam satu bulan),” ungkapnya.

KH Achmad Chalwani menambahkan, melalui Pondok Pesantren An Nawawi, merupakan upaya untuk turut membangun sumber daya manusia. “Kita sebagai bangsa yang religius, kita harus selalu ingat lagunya WR Soepratman di Indonesia Raya, bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Jiwa itu lebih dulu daripada badan, (membangun) batiniah itu lebih dulu,” tambahnya.


Panuju Triangga

2 KOMENTAR