Dari Lereng Menoreh, Petani Krisan Bertahan di Tengah Pandemi

SIAPA yang tak suka melihat bunga satu ini. Cantik merekah beraneka warna. Seruni nama bunga itu. Banyak orang mengenalnya sebagai Krisan atau dengan nama ilmiahnya Chrysanthhemum. Dikutip dari laman Wikipedia, krisan merupakan sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai tanaman hias pekarangan atau bunga petik. Tumbuhan berbunga ini mulai muncul pada zaman Kapur. Bunga seruni adalah bagian dari tumbuhan suku kenikir-kenikiran atau Asteraceae yang mencakup bermacam-macam jenis Chrysanthemum.

Sayang, pesona dan cantiknya Krisan berbanding terbalik dengan kondisi para petani yang membudidayakannya terutama saat pandemi Covid-19 ini. Tersentral di perbukitan Menoreh, tepatnya Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DIY, para petani yang mayoritas tergabung dalam Paguyuban Petani Bunga Potong Krisan Seruni Menoreh itu menjerit karena sulitnya pemasaran bunga di saat wabah Corona menerjang.

“Di saat orang-orang dan media sibuk mengalihkan perhatian ke ojek online dan BLT, mereka lupa kalau Corona tidak hanya menyengsarakan ojek online. Petani, seperti kami ini adalah salah satu yang terdampak paling parah dan sekaligus paling dilupakan,” tutur Sugeng Rahmanto, salah seorang petani Krisan di perbukitan Menoreh, kemarin (24/7).

Manto menceritakan, petani bunga yang selama ini menjual bunganya ke toko atau acara pernikahan seakan tak berdaya lantaran karena pandemi, toko bunga mengurangi bahkan menolak setoran bunga. Termasuk tak adanya acara-acara pernikahan. Demikian pula acara atau event yang biasa menggunakan bunga untuk dekorasi seperti di gereja, berbagai event dekorasi pun terpaksa ditunda.

“Akhirnya para petani harus membiarkan bunga-bunga ini sampai layu, tanpa terpanen. Terutama bunga dan daun potong karena sifat komoditas ini yang memiliki vaselife atau masa kesegaran terbatas sekitar dua minggu,” jelas dia.

Sementara itu Yohannes Adventody, Sekretaris Paguyuban Petani Bunga Potong Krisan Seruni Menoreh menambahkan setidaknya ada 30 petani yang tergabung dalam paguyuban tersebut dengan rata-rata kepemilikan luasan setiap petani sekitar 200 meter persegi. “Biasanya saat kondisi normal kami bisa kirim bunga dua kali dalam sepekan. Dikirim ke toko bunga di Kota Jogja, Bantul, Wates dengan rata-rata 300 ikat setiap minggunya. Harga perikat waktu itu Rp 11 ribu, tapi saat ini hanya Rp 5 ribu perikat dan itu pun sedikit permintaannya,” sambung Tody.

Menurutnya, berbagai cara ditempuh para petani secara mandiri. Seperti ada yang memasarkan secara online, lewat media sosial dan lain-lain. Ada juga yang untuk tetap menjaga pendapatan petani, mereka menanam sayuran dan jagung untuk tetap menjaga ekonomnya. “Namun memang keadaan yang memang kebutuhan saat ini lebih fokus pada bidang pangan, sehingga untuk menutup biaya benih dan bibit saja sangatlah sulit,” paparnya.

Para petani pun, lanjut Tody, berharap Dinas Pertanian dan pemerintah juga segera memberikan solusi terbaik untuk agar mereka bisa bertahan. “Karena di awal Pemerintah dan Dinas sudah berkomitmen Krisan sebagai ikon Kabupaten Kulon Progo. Paling tidak beberapa stimulus agar hasil tetap bisa laku di pasar. Semoga keindahan bunga juga bisa tetap terjaga dengan sikap optimistis terhadap pariwisata dan ekonomi petani,” tandasnya.


Gading Persada

5 Komentar

  1. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

  2. I learn something new and challenging on blogs I stumbleupon everyday.

  3. Hi there, after reading this amazing paragraph i am as well delighted to share my knowledge here with friends.

  4. Your site is very helpful. Many thanks for sharing!

Tinggalkan Balasan