Damainya Dukuh Jlarang, Kampung Ternak Perkutut

KEBUMEN, SM Network – Menengok Dukuh Jlarang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian, Kebumen terasa damai dengan keindahan burung perkutut yang menghiasi rumah-rumah penduduk setempat. Alunan merdu suara burung yang bersahut-sahutan pun membuat betah siapa saja yang singgah di tempat tersebut.

Ya. Warga di wilayah perbukitan itu sebagian besar beternak perkutut. Hampir setiap rumah dihiasi kandang teralis besi yang digunakan untuk mengembangbiakkan perkutut.

“Ada 90-an rumah yang terdapat kandang perkutut di sini. Belum kalau satu desa,” kata salah satu peternak perkutut Dukuh Jlarang Desa Karangtanjung, Muhrodi. Jika ditambah wilayah lain yang masih satu desa ada sekitar 150 rumah yang menyediakan tempat untuk beternak perkutut.

“Memang pusatnya di Dukuh Jlarang. Dan dari sini pula pertama ada ternak perkutut yang sekarang sudah merambah hingga berbagai tempat di Kebumen,” imbuhnya.

Mula-mula dilakukan oleh seorang kiai di Dukuh Jlarang, yakni Kiai Hilaludin pada tahun 1992. Ia yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Kebumen dari PPP itu beternak perkutut empat pasang. Hingga kemudian diikuti warga setempat dan sekitarnya. Seperti di Desa Karangsari Kecamatan Kebumen yang bersebelahan dengan Desa Karangtanjung.

Muhrodi sendiri beternak perkutut sejak 1995 yang saat itu baru memiliki dua pasang. Ia mengawinkan perkutut Bangkok dengan lokal agar menghasilkan suara yang tidak terlalu besar. Kini Muhrodi memiliki puluhan pasang perkutut.

“Perjalanan saya beternak perkutut sempat terhenti karena kehabisan modal. Kemudian berlanjut dan terdapat pedagang besar tahun 2005,” ucapnya.

Disebutkan, rata-rata warga Dukuh Jlarang memiliki 40 pasang perkutut yang diternakkan. Mereka umumnya meniru dari pendahulunya. Lebih lanjut, beternak perkutut tergolong gampang. Perawatannya pun mudah. Begitu pula soal pakan yang murah. Jika diitung, untuk pakan berupa milet, paling hanya merogoh receh Rp 100 perburung. Juga tidak seperti beternak ayam atau itik yang gampang terkena penyakit.

Meski sekampung beternak perkutut, namun soal penjualan berjalan lancar. Masing-masing tetap laku. Bahkan yang membeli perkutut dari Dukuh Jlarang itu tidak hanya warga Kebumen. “Dari luar daerah banyak yang beli di sini, seperti Lampung, Bali, Jogja dan Jatim. Padahal di daerah setempat terdapat peternak perkutut,” jelasnya.

Pengepul perkutut saban hari juga keliling dari satu peternak ke peternak lain untuk membelinya. Mengenai harganya, untuk indukan produk, perkutut putih Rp 1 juta, cemani Rp 700.000. Untuk perkutut biasa Rp 300.000, jika keluar warna putih Rp 400.000. Sedangkan anakan, jenis perkutut putih Rp 200.000, cemani Rp 110.000 dan coklat Rp 50.000.

“Kalau yang mahal anakan perkutut putih kapas mencapai Rp 500.000. Kalau ada jambulnya tidak ada standar harga,” sela Muhrodi. Ada lagi perkutut golden yang harganya Rp 5 juta perekor, sepasang Rp 8 juta. Diakui Muhrodi, dengan beternak perkutut ekonomi menjadi naik. Bapak dua anak itu pun mencukupi kebutuhan sehari-hari dari hasil beternak perkutut. Sayangnya, kata Muhrodi, dari perkumpulan peternak perkutut yang sudah terbentuk selama ini belum mendapat perhatian dari pemerintah. Terutama dalam hal bantuan.

“Padahal kalau perkumpulan peternak lainnya ada bantuan,” ucapnya. Sekretaris Camat Alian Angga Aulia yang dihubungi terpisah menanggapi kemungkinan beberapa OPD yang mengampu fungsi pemberdayaan masyarakat. Termasuk pemberdayaan terhadap peternak perkutut. Ia lantas mencontohkan OPD di Dispermades atau jika ada bidang peternakan pada Distapang yang menanganinya.

“Cuma terkait prioritas, tentunya masing-masing OPD harus menyangga dan mendorong program pemkab. Sedangkan perkutut mungkin belum jadi prioritas,” terang Angga. Sementara itu, perkutut di mata pegiat budaya Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam, Kebumen, Ki Pandawa Jati memiliki nilai budaya adiluhung. Tidak sebatas didengar suaranya saja atau menjadi komoditas ekonomi. “Sehingga, dalam melestarikannya pun harus memperhatikan potensi lokal yang tidak lain lebih dikenal dengan perkutut Majapahit,” papar Ki Pandawa Jati.

Tinggalkan Balasan