SM/Supriyanto - TERSANGKA PENIPUAN: Kapolsek Kebumen AKP Tarjono Sapto Nugroho didampingi Kasubbag Humas Polres Iptu Tugiman menunjukkan barang bukti kasus penipuan, Senin (15/3).

KEBUMEN, SM Network – Modus operandi penipuan semakin beragam di era jual beli online. Bahkan jual beli model Cash On Delivery (COD) pun bisa menjadi modus untuk melakukan penipuan. Seperti dalam kasus yang ditangani Unit Reskrim Polsek Kebumen. Dua orang tersangka yang diduga melakukan penipuan handphone mewah.

Masing-masing berinisial DM (32) warga Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang dan ST (22) warga Kelurahan Panican Kecamatan Kemangkon, Purbalingga. Keduanya diduga melakukan penipuan kepada korban berinisial DK (27) warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Bayan, Purworejo.

Aksi penipuan itu penipuan terjadi di sebuah rumah kontrakan di Desa Kutosari Kebumen, Jumat (26/2). Awalnya tersangka dan korban bersepakat untuk COD, handphone merek Samsung S20 Plus yang ditawarkan korban akan dibeli tersangka.
“Tersangka menghubungi korban setelah melihat postingan di marketplace Facebook,” jelas Kapolsek Kebumen AKP Tarjono Sapto Nugroho didampingi Kasubbag Humas Polres Iptu Tugiman, Senin (15/3).

Tersangka DM mengajak korban COD di sebuah rumah yang diakui sebagai rumahnya di Desa Kutosari Kebumen. Alih-alih mengecek handphone dan menunjukkan ke istrinya yang berada di dalam rumah, tersangka justru membawa kabur handphone seharga Rp 10 juta tersebut melalui pintu belakang rumah.

Korban yang penasaran menunggu lama, akhirnya mengecek ke dalam rumah dan menemui perempuan yang sebelumnya dikenalkan tersangka adalah istrinya. Sebelum korban datang, perempuan itu disetting oleh tersangka untuk mengaku sebagai istrinya.

“Hal ini diiyakan si perempuan, karena imbalan iming-iming tersangka akan mengontrak rumahnya,” jelas Kapolsek.
Saat keduanya saling berdebat, akhirnya tersadar jika telah menjadi korban penipuan tersangka. Selanjutnya keduanya melaporkan kejadian itu ke Polsek Kebumen.

Melalui penyelidikan, tersangka berhasil diamankan di Kota Semarang. Senin (8/2) sekitar pukul 20.00. Kepada polisi, tersangka mengaku telah melakukan penipuan kepada korban. Tersangka DM berperan sebagai eksekutor, sedang tersangka ST menunggu di mobil.

“Iya Pak, banyak yang kami tipu. Barang hasil menipu kita jual, uangnya dibagi dua 50-50,” kata tersangka DM.

Cari Korban

Setiap akan beraksi, tersangka mencari calon korban yang menjual handphone di marketplace Facebook. Setelah mendapatkan calon penjual handphone, korban lalu mencari orang yang akan mengontrakan.

Rumah kontrakan itu nantinya akan digunakan untuk COD, agar calon korban semakin yakin bahwa tersangka adalah pembeli yang serius. Seperti rumah kontrakan yang di Desa Kutosari itu bukanlah rumah tersangka. Tapi, rumah kontrakan si perempuan yang sebelumnya ditawarkan kepada tersangka.

Tersangka dengan mudah mencari rumah yang akan dikontrakan melalui marketplace Facebook. Setelah terjadi kejahatan penipuan, rumah ditinggalkan begitu saja untuk menghilangkan jejak.

Tersangka DM dijerat dengan Pasal 378 KUH Pidana tentang Tindak Pidana Penipuan dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. Sedangkan ST dijerat Pasal 378 Jo 56 Subsider 480 KUH Pidana tentang tindak pidana membantu melakukan kejahatan penipuan dan atau pertolongan jahat dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.

“Kami imbau kepada warga masyarakat untuk lebih hati-hati dalam bertransaksi. Sasaran tersangka adalah handphone mewah dengan harga belasan juta ke atas,” tandas Kapolsek.