SM/Panuju Triangga - CING POLING: Kesenian Cing Poling saat tampil dalam parade budaya rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Purworejo, beberapa waktu lalu.

KABUPATEN Purworejo memiliki beragam kekayaan kesenian tradisional. Salah satu yang cukup menonjol yakni tari Cing Poling. Selain hanya ada di Purworejo, kesenian ini juga hampir punah.

Tarian ini dimainkan oleh sebelas hingga 20 orang pemain yang memakai pakaian khas seperti bregodo prajurit. Lenggak-lenggok gerakannya juga terlihat unik, berbeda dari tari tradisional lainnya.

“Setahu saya kesnian ini hanya ada di Purworejo dan cuma ada dua (kelompok), di Desa Jatirejo (Kecamatan Kaligesing) dan di (Kecamatan) Pituruh),” ungkap Tukiyat, Ketua Kelompok Kesenian Reog Cing Poling Ponco Manunggal Jati Desa Jatirejo kepada Suara Merdeka, baru-baru ini.

Tukiyat menuturkan, kesenian Cing Poling ini menggambarkan kisah pengawalan seorang kepala suku ketika mengantarkan upeti ke Keraton Mataram. Semua gerakan dalam tarian ini menggambarkan pasukan pengamanan atau pengawalan tersebut.

“Yang di depan membawa tombak yang disamarkan menjadi tiang bendera. Dibelakangnya membawa tameng yang disamarkan menjadi kencreng difungsikan sebagai aba-aba. Kemudian ada yang membawa pencak (pedang), dan pembawa drodok yang sebenarnya merupakan tempat (wadah) untuk upeti yang mau dipersembahkan kepada raja,” tuturnya.

Kelompok kesenian Reog Cing Poling Ponco Manunggal Jati sendiri, lanjutnya, sudah terbentuk sejak 1931 dan hingga kini sudah lima kali pertantian generasi pimpinan kelompok. Ia tak menampik bahwa kesenian ini menghadapi ancaman kepunahan.

“Dulu sebelum tahun 2017, memang sangat sulit sekali. Karena ini dianggap tontonan tua, bahkan hampir tidak ada penggemarnya sehingga tidak ada yang melestarikan,” tuturnya.

Masa-masa genting terutama terjadi sekitar tahun 1990 hingga tahun 2010. Ketika itu pernah terjadi tinggal tersisa empat pemain, padahal idealnya tarian ini dimainkan 11 personil atau paling tidak tujuh personil baru bisa berjalan.

Salah satu yang membuat kesenian ini dapat bertahan, menurut Tukiyat, adalah tradisi Jolenan Desa Somongari Kecamatan Kaligesing. Ada kepercayaan masyarakat bahwa ketika tradisi Jolenan digelar setiap dua tahun sekali, bende yang merupakan salah satu alat musik pengiring Reog Cing Poling Ponco Manunggal Jati harus digunakan dalam acara Jolenan.

“Reog ini mempunyai keunikan, karena konon satu bende berasal dari Mataram, dan bende itu harus digunakan ketika Somongari ada acara Jolenan. Pernah waktu dipakai di sana genting tidak ada penari, hanya dipinjam bendenya saja, sekitar tahun 1990an,” ungkapnya.

Upaya untuk menghidupkan kembali kesenian ini mulai dilakukan. Pada 2015 Desa Jatiroje menyelenggarakan gelar budaya dan wisata dengan mengundang dinas yang menaungi pariwisata dan kebudayaan serta instansi terkait. Kesenian Cing Poling yang waktu itu masih minim pemain akhirnya mulai mendapat perhatian pemerintah daerah.

“Kami mendapat perhatian, akhirnya dibina dan mengajak generasi muda untuk ikut gabung,” tuturnya.

Di sisi lain, kelompok ini kemudian juga melakukan peremajaan kostum sekitar tahun 2017 dengan menggalang dana bantuan dari paguyuban warga perantau yang ada di Jakarta. Pada perhelatan parade budaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Purworejo, kelompok ini diberi kesempatan untuk tampil. Dari sini, kesenian Cing Poling mulai kembali terangkat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo, Agung Wibowo, menuturkan bahwa kesenian Cing Poling merupakan kesenian khas Kabupaten Purworejo, sejak masa penjajahan 1930an. Menurutnya, kesenian ini memang sudah hampir punah, sehingga di beberapa event kegiatan selalu ditampilkan agar lestari dan hidup kembali.

“Sekarang di sekitar Kecamatan Bagelen dan Purworejo, sudah mulai mencoba membentuk. Sebelum ini tinggal ada di dua kecamatan,” katanya.


Panuju Triangga

1 KOMENTAR