Cerita Dibalik Nyadran “Online” di Temanggung

Nyadran merupakan bagian dari budaya masyarakat Kabupaten Temanggung yang sampai saat ini masih dijunjung tinggi. Setiap tahun menjelang bulan Ramadhan secara bergantian setiap desa menggelar ritual ini. Bahkan, saking meriahnya di masyarakat desa ada ungkapan

“bada durung mesti bali, ning nek nyadran kudu bali” (Lebaran belum tentu pulang kampung, tapi kalau saat nyadran wajib pulang). Hal itu membuktikan, betapa adat istiadat itu telah menyatu dengan jiwa warga desa. Nyadran yang berasal dari bahasa Sanskerta, “sraddha” artinya keyakinan.

Di mana tradisi ini dijalani dengan mulai membersihkan makam, tabur bunga, dan ritual puncaknya berupa “kembul bujana” atau makan bersama-sama dengan berbagai lauk-pauk untuk selamatan, sebagai perlambang bersih diri jiwa raga sebelum berpuasa. Namun sayangnya musim nyadran tahun 2020 ini menuai polemik di masyarakat sebab dibarengi dengan munculnya wabah virus korona.

SM/Raditia Yoni Ariya – INGKUNG AYAM: Warga Desa Pagerjurang, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, menggelar ingkung ayam di rumah masing-masing saat digelar nyadran online, Jumat (3/4/2020).

Sebagian warga mengaku takut dan tidak akan ikut melaksanakannya, tapi sebagian lagi tetap bersikukuh menjalankan tradisi tinggalan leluhur ini. Di satu sisi Pemerintah Kabupaten Temanggung sendiri telah melarang diadakan nyadran untuk memutus mata rantai penularan korona.

Kasak-kusuk di masyarakat Kabupaten Temanggung pun akhirnya diambil jalan tengah dengan pemikiran arif dan bijaksana, yakni digagaslah nyadran “online”. Caranya, Pak Kaum atau pemuka agama tetap membaca tahlil di masjid dan agar bisa didengar seluruh warga pembacaan dilakukan menggunakan pengeras suara.

Sedangkan warga cukup mengamininya dari rumah masing-masing sehingga tetap melaksanakan social distancing. Pun demikian, supaya serasa tetap berkumpul bersama mereka memanfaatkan ponsel pintar dengan menggelar semacam teleconference memanfaatkan fasilitas video call, maka jadilah yang namanya “Nyadran Online”.

Dan cara itu ternyata tidak mengurangi kekhusukan ritual nyadran, yang sepanjang masa baru dilakukan dengan cara unik tahun 2020 ini, yakni melaksanakan tradisi budaya dengan memanfaatkan tekhnologi. “Biasanya nyadran dilakukan dengan berkumpul seluruh warga di masjid, tapi dengan adanya wabah virus COVID-19 atau korona, kami selaku takmir mengikuti anjuran pemerintah.

Tidak nyadran seperti biasanya, akan tetapi kami melaksanakan di depan rumah masing-masing dengan dipandu oleh para pemuka agama, yaitu pembacaan doa dan tahlil di masjid melalui pengeras suara. Sedangkan masyarakat mengikutinya di rumah masing-masing sebagai penghormatan kepada leluhur serta syukur atas nikmat,”ujar M Saefudin selaku Ketua Takmir Masjid Roudlotul Jannah, Dusun Kuncen, Desa Badran, Kecamatan Kranggan, Jumat (3/4/2020).

Ketua Pemuda Dusun Kuncen Suhud Pramono menuturkan, memang para pemuda mensiasati nyadran online ini dengan cara live streaming instgram. Dengan cara ini setiap warga bisa mengikuti dan memantau secara langsung sekaligus berdoa bersama-sama. Tak lupa dalam suasana nyadran itu secara khusus mereka berdoa memohon kepada Allah, agar wabah korona cepat hilang dari Indonesia dan dunia, sehingga kehidupan bisa kembali normal seperti sediakala.

Hal serupa juga dilakukan warga Desa Pagerjurang, Kecamatan Jumo. Rara Novia Perwitasari, warga Tegong, Pagerjurang menuturkan, dalam kondisi normal prosesi nyadran warga berkumpul di sepanjang jalan kampung hingga halaman masjid arah makam desa.

Berbagai sajian khas seperti tumpeng, ingkung ayam, jajan pasar di bawa di tata di atas tikar dan daun dimakan bersama-sama. Tapi kesepakatan warga karena ada korona maka nyadran tetap dilaksanakan namun warga harus berada di rumah masing-masing.

“Ingkung ayam, tumpeng digelar di teras rumah warga sendiri-sendiri, lalu pak kaum di masjid baca doa pakai pengeras suara diumumkan, mangga ingkang sareng-sareng badhe ngawontenanken nyadran. Maka warga khidmat di rumah masing-masing tetap makan bareng tapi lingkupnya sekeluarga-sekeluarga gitu untuk mengurangi persebaran korona. Ini tetap khusuk kok malah unik dengan tetangga saling lihat-lihatan sambil tertawa-tawa, karena kesadaran masyarakat di sini tinggi,”katanya.


Raditia Yoni Ariya/Kim

Tinggalkan Balasan