CCTV Pantauan Merapi Diusulkan Ditambah

SLEMAN, SM Network – Komunitas Siaga Merapi (KSM) Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman mengusulkan adanya penambahan fasilitas CCTV untuk memantau kondisi Gunung Merapi. Selama ini, monitoring yang dilakukan oleh relawan hanya mengandalkan pandangan mata, dan update informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

“Kami masih ada kendala berkaitan teknologi. Perlu ditambah CCTV terutama di posko Kalitengah Kidul yang jaraknya 5,3 km dari puncak untuk memudahkan koordinasi dengan pos yang ada di bawah,” ungkap Ketua KSM Glagaharjo, Rambat Wahyudi, Jumat (12/11).

Para relawan lokal selama ini aktif membantu upaya antisipasi penanganan bencana sejak status Merapi ditingkatkan ke level Waspada pada Mei 2018. Selain mengaktikan dua pos yakni di Balai Desa Glagaharjo dan Dusun Kalitengah Kidul, komunitas ini juga menyiagakan 40 anggota untuk siaga 24 jam.

Pada proses evakuasi, relawan lokal juga ikut terjun membantu hingga menempatkan anggota di barak untuk membantu pemenuhan kebutuhan pengungsi. Menanggapi usulan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sleman Eka Suryo Prihantoro memandang perlu adanya penambahan CCTV pantauan visual Merapi.

Saat ini baru ada empat CCTV yang masing-masing ditempatkan di Wisma Sembada, Tritis Turi, Posko Pakem, dan Turgo. Menurut dia, lokasi yang perlu dipasang sarana CCTV semisal di sisi barat lereng, dan Museum Gunung Merapi yang jaraknya relatif aman.

“Kami akan diskusikan dulu dengan BPBD. Sebab kalau lokasinya terlalu dekat dengan puncak, link koneksinya akan sulit dan beresiko rusak terkena dampak erupsi, seperti saat kejadian erupsi tahun 2010,” urainya.

Disamping itu, faktor kelistrikan juga menjadi pertimbangan terutama jika kamera akan dipasang di zona KRB III. Terlebih dulu dipastikan area itu terdapat jaringan listrik. “Kelistrikan juga perlu diperhatikan karena pemasangan CCTV butuh tower triangle sehingga harus ada catu daya. Tidak tahu PLN mau tidak pasang di KRB III,” imbuh Eka.

Secara teknis, CCTV untuk monitoring kondisi gunung memiliki kelebihan dari sisi zoom. Karena dipasang di jarak yang relatif jauh dari puncak, kemampuan memperbesar gambar lebih baik dibanding CCTV pada umumnya. Dengan keunggulan tersebut, harga piranti itu pun lebih mahal. Harga per unit kamera berkisar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta.

Tinggalkan Balasan