Bukan Hanya Gebyar, Romansa Purworejo 2020 Tetap Digelorakan

Tandai Purworejo Siap Terima Kunjungan Wisatawan

PURWOREJO, SM Network – Sektor pariwisata diharapkan menjadi salah satu pengungkit yang bisa mempercepat normalnya perekonomian maupun kesejahteraan masyarakat di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Romansa Purworejo 2020 pun tetap digelorakan, untuk memperkenalkan kesiapan kabupaten yang ada di sisi selatan Jawa Tengah ini menerima kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

“Harapan kita, dengan kondisi pandemi seperti ini, pariwisata sebagai salah satu pengungkit yang bisa mempercepat normalnya perekonomian ataupun kesejahteraan masyarakat,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo, Agung Wibowo, Kamis (24/9).

Sektor wisata, lanjutnya, bila sudah bergerak maka multiplier efeknya luar biasa, sehingga diharapkan dapat kembali menormalkan kondisi perekonomian masyarakat. Oleh karena itu pihaknya tetap konsisten dan semangat dalam pengembangan pariwisata dan seni budaya. Para pelaku wisata dan seni budaya juga telah diberikan motivasi dan mereka siap bahkan bersemangat menghadapi kondisi pandemi.

“Dengan adanya pandemi kemarin, dan sekarang mereka sudah merasakan kenaikan jumlah kunjungan, mereka tambah semangat lagi untuk mulai pembenahan-pembenahan di sektor wisata,” ungkapnya.

Romansa atau tahun kunjugan wisata Purworejo 2020 juga tetap berlanjut dan digelorakan. Semula, sebut Agung, dalam Romansa Purworejo 2020 direncanakan dibuat beberapa “gong”. Meliputi berbagai event di awal tahun saat Hari Jadi Purworejo, menjadi gong yang pertama. Kemudian gong kedua direncanakan di bulan Agustus kemarin, dan yang terakhir di akhir tahun menyambut tahun baru. Tapi karena pandemi, maka hanya bisa dilaksanakan yang pertama saja.

“Namun demikian, untuk Romansa Purworejo 2020 tetap kita gelorakan, tetap kita support dengan kegiatan-kegiatan yang lebih ke virtual untuk terus memperkenalkan Purworejo bahwa di tahun 2020 ini siap menerima kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” paparnya.

Agung menegaskan bahwa Romansa Purworejo 2020 tidak gagal, hanya “gong”-nya yang tidak bisa dilaksanakan. Meski demikian, ada beberapa kegiatan yang justru dipilih Purworejo sebagai tempat pelaksanaan, seperti Kopdar Nasional Forum Pelaku Pariwisata Indonesia (FORPPI) III. Selain itu banyak juga wisatawan dari luar daerah yang berkunjung ke Purworejo.

Hal ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa Romansa 2020 sudah berjalan. Bahkan, di awal tahun sebelum terjadi pandemi juga sudah terjadi kenaikan jumlah kunjungan wisata ke Purworejo sekitar dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

“Jadi Romansa 2020 itu bukan gebyarnya saja, tapi kita lebih cenderung bahwa Purworejo siap menerima kunjungan pariwisata mulai 2020 dan ke depannya. Ke depan harus lebih siap lagi,” jelasnya.

Dari segi potensi, papar Agung, Kabupaten Purworejo memiliki potensi wisata yang komplit, mulai dari pantai, dataran, pegunungan, potensi seni budaya, hingga destinasi wisata sejarah. Bila dibanding wilayah sekitar, potensi Purworejo tidak kalah, bahkan memiliki beberapa potensi tambahan yang tidak dimiliki kabupaten lain di sekitarnya.

“Misalnya yang sekarang tren, Magelang, tidak memiliki pantai, kita punya. Wisata sejarah, Magelang tidak punya museum yang kaitannya dengan cagar budaya dan sebagainya, kita punya museum Tosan Aji,” sebutnya.

Dalam mengembangkan potensi-potensi wisata tersebut, kata Agung, selama ini dilaksanakan berdasarkan prioritas, dimana sementara ini ada tiga prioritas. Pertama, pengembangan Purworejo bagian selatan atau wilayah pantai, yakni Pantai Dewaruci Jatimalang dan sekitarnya yang masih terus dikembangkan sampai tahun depan.

“Harusnya tahun ini selesai, tapi karena pandemi, harus kita undur sampai tahun depan,” katanya.

Kedua, pengembangan Purworejo sebelah timur, yakni wilayah Kaligesing, Loano, Bener salah satunya melalui pembangunan-pembangunan di Goa Seplawan yang juga akan terus berlanjut.

“Ketiga, pengembangan wisata di wilayah perkotaan. Ini yang kita adakan beberapa kegiatan, seperti pengenalan kota tua, Museum Tosan Aji, alun-alun, dan sebagainya. Di samping itu, untuk destinasi yang dikelola oleh masyarakat dan desa tetap kita support untuk berkembang,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan