Buah Hasil Inovasi Desa Lereng Merapi di Tengah Pandemi

MUNGKID, SM Network – Guna meningkatkan ketahanan pangan masyarakatnya, sebuah desa di lereng Merapi mencoba berbagai inovasi dalam hal pertanian. Hal ini patut diapresiasi. Berbagai upaya dilakukan pihak pemerintah desanya, sehingga hasil panen yang diperoleh sangat memuaskan.

Desa Banyuadem yang berlokasi di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang ini, memang hebat dalam hal pengembangan pertanian. Tentunya tanaman yangditanam disesuaikan dengan daerah geografisnya, yakni di daerah lereng gunung Merapi dimana tanahnya cukup subur.

Sebuah desa yang dihuni sekitar 700 kepala keluarga ini, mayoritas bekerja sebagai petani. “Sekitar 85 persen sebagai petani, sisanya sebagai pegawai dan lain-lain,” jelas Kepala Desa Banyuadem, Supriyadi, saat ditemui di rumahnya (2/9).
Ia mengungkapkan bahwa tanah kas (bengkok) desa Banyuadem sendiri mencapai ratusan hektar yang dipergunakan untuk lahan pertanian. “Sekitar 240 hektar totalnya, 167 hektar sendiri untuk tanaman salak yang sisanya untuk pertanian tumpang sari seperti jagung, ketela, kelapa, pisang dan lainnya,” ungkapnya.

Namun ia memprediksi harga salak pondoh atau salak lumut, pada bulan November harganya akan turun. Dalam hal ini pihaknya menyiasati dengan tanaman pisang ada kelapa. Jumlah pohon kelapa sendiri di wilayahnya yang siap panen ada sekitar 1200 pohon. “Itu setiap hari dideres oleh 167 penderes. Dan bisa diproduksi menjadi gula merah rata-rata 85-120 kg perharinya,” papar Supeiyadi.

Untuk tanaman pertanian lainnya memang bisa dibilang unggul. Untuk jumlah dan ukuran hasil panennya bisa dibilang tidak seperti pada umumnya. Bisa dikatakan cukup super, padahal bibitnya sama.

“Hasil panennya super semua, mulai jumlah dan ukuran. Contoh kelapa yang ukurannya cukup besar, dan hasil setiap pohonya antara 25-30 buah dalam satu janjang. Ada buah pisang juga yang ukurannya panennya mencapai 2,5 meter atau bisa laku Rp 500-700 ribu saat musim laku. Ketela juga super, setiap panen satu pohon aja ukurannya cukup besar, bisa laku Rp 25 juta setiap 1 hektarnya,” ujarnya.

Untuk salak, lanjut Supriyadi, jangan ditanyakan lagi. Menurutnya setiap satu kali panen misal saat musimnya bisa mencapai 100 ton setiap harinya, baik salak Nglumut maupun Madu. “Dan penjualnnya sudah cukup luas, ada yang di ekspor ke luar negeri juga. Namun hanya beberapa persen dari total panen yang lolos seleksi karena memang ketat,” imbuhnya.

Supriyadi juga menyampaikan, bahwa salak bisa dipanen tidak hanya pada saat musim panen saja. Ia bersama Pemerintah Desanya membuat program panen salak dikala tidak musim panen raya.
“Kita ada program penanaman salak. Jadi saat nanti para petani wilayah lain sudah panen raya, kami beberapa juga ada. Namun saat tidak ada panen pasti kami tetap ada panenan salak. Itu salah satu startegi kami,” cetusnya.

Intinya, Kata Supriyadi semua proses keberhasilan tersebut dimulai mulai proses persiapan bibit dan perawatannya. “Lalu cara tanam dan perawatan ada strategi sendiri yang banyak orang belum tahu. Kalau mau belajar siapapun bisa kesini, kita kasih contoh dan bukti di lapangan seperti apa hasilnya. Kita kasih tahu juga saat panen raya, bisa dihitung jumlahnya dan ukuran hasil panen kami,” tegas Supriyadi.

Menurut Supriyadi ada beberapa kendala, yang dihadapi para petani meskipun hasil panen yang bisa dibilang fantastis. “Selain utamanya soal pemasaran, ada juga terkait penyediaan pupuk subsidi yang susah didapat. Ada pupuk non subsidi harganya tiga kali lipat,” keluhnya.

Tidak hanya itu, soal irigasi perairan di Desa Banyuadem juga terkendala karena beberpa mati alirannya. “Hal ini karena memang saluran irigasi perlu dibangun sesegera mungkin untuk memaksimalkan hasil pertanian kita. Namun itu belum bisa terwujud karena saya Kepala Desa baru, dan hanya menjalankan program Kades sebelumnya,” pungkas Supriyadi.

Ia berharap agar pemerintah mau membantu para petani disini, untuk turun tangan melihat langsung kendala yang dihadapi dan hasil bumi. “Kita tunjukan usaha dan hasil kami, agar pemerintah bisa menyuport. Semoga semua bisa maksimal dan bisa meningkatkan ketahanan pangan,” harapnya. (Ita)

Tinggalkan Balasan