SM/Amelia Hapsari - BERMAIN : Sejumlah anak pengungsi bermain di barak Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (21/11).

YOGYAKARTA, SM Network – Enam pekan sudah, 240 warga Dusun Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman bertahan di barak pengungsian. Rasa jenuh mulai menghinggapi mereka. Hal ini tidak dipungkiri oleh Panewu Cangkringan, Suparmono yang mengungkapkan keluhan sebagian pengungsi tentang kebosanan mereka tinggal di barak.

“Bagaimana caranya, kita upayakan agar pengungsi tetap bertahan. Syukurlah, ada saja relawan yang datang memberi hiburan,” ucap Pram, Sabtu (12/12).

Berbagai cara dilakukan untuk mengusir kejenuhan pengungsi. Mulai dari menyajikan hiburan seperti pentas musik, tari, trauma healing, senam lansia hingga siraman rohani yang rutin dilakukan oleh petugas Kantor Urusan Agama (KUA).
Namun dari bermacam hiburan itu, menurut Pram, beternak adalah aktivitas yang paling manjur untuk mengobati kerinduan pengungsi pada tempat tinggal mereka.

“Sebagian ternak sapi sudah ditempatkan di kandang dekat barak. Itu adalah hiburan yang paling bagus, dan kadang-kadang mereka naik ke atas untuk mencari rumput pakan ternak,” tuturnya.

Kebosanan yang dirasakan para pengungsi dipahami oleh Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida. Namun dia meminta warga agar bersabar. Sebab, aktivitas Merapi masih tinggi meskipun naik turun.

Sampai saat ini potensi bahayanya masih sama seperti saat ditentukan status Siaga. “Lamanya tingkat aktivitas ini membutuhkan kesabaran. Karakter antara erupsi Merapi yang satu dengan yang lain tidak sama, sehingga kita terus pantau,” katanya.

Hanik menjelaskan, erupsi efusif memiliki ketidakpastian waktu yang lebih besar dibandingkan erupsi eksplosif. Pada peristiwa letusan tahun 2006, Merapi menyandang status Siaga selama satu bulan sejak 12 April. Kemudian pada 13 Mei 2006, statusnya dinaikkan ke level Awas yang bertahan selama dua bulan.

Berbeda dengan erupsi 2010 dimana Merapi berstatus Siaga hanya selama lima hari, lalu dilanjutkan level Awas pada 25 Oktober. Kala itu, status Awas ditetapkan selama satu bulan hingga kemudian diturunkan kembali ke level Siaga pada 3 Desember 2010.