BOB Kumpulkan Para Ahli, Sinergikan Pola Perjalanan Wisata di Joglosemar

YOGYAKARTA, SM Network- Masih belum beroperasinya destinasi wisata dimanfaatkan betul Badan Otorita Borobudur (BOB) untuk menyiapkan pembenahan agar saat dibuka kembali dalam era Tatanan Baru dapat lebih baik lagi. Salah satunya dengan memetakan Travel Pattern atau pola perjalanan pariwisata di kawasan Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang).

Tak tanggung-tanggung, sejumlah pakar dan ahli dibidangnya dikumpulkan menjadi satu dalam forum virtual diskusi bertema ‘Pemetaan Travel Pattern Joglosemar’ pertengahan pekan lalu (9/7). Menurut Direktur Pemasaran Badan Otorita Borobudur Agus Rochiyardi pengembangan pariwisata di Joglosemar memang membutuhkan sebuah travel pattern yang saling bersinergi dan terintegrasi. Bahkan, peta pola perjalanan wisata itu disusun tak hanya berdasar pergerakan wisatawan, namun harus lebih lengkap seperti mengetahui perilaku wisatawan saat mengunjungi sebuah destinasi, durasi perjalanan dan lain-lain.

“Alhamdulilah pekan lalu (9/7) sudah berlangsung forum virtual diskusi dimana memang kami mendapatkan banyak masukan dan usulan mengenai pembentukan travel pattern Joglosemar dari banyak pihak,” tutur Agus, kemarin. Agus mengatakan di kawasan Joglosemar dan sekitarnya banyak terdapat titik-titik sebaran destinasi baru yang menjadi daya tarik wisatawan, seperti keindahan alam atau budaya masyarakat. Titik-titik destinasi baru yang tersebar itu harus diorkestrasi menjadi sebuah jalur pariwisata yang baik.

“Destinasi-destinasi baru ini bisa menjadi tambahan informasi dalam penyusunan integrated tourism master plan Joglosemar,” terangnya.
Virtual Diskusi virtual menghadirkan sejumlah pembicara seperti Kepala Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Janianton Damanik, Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Edy Setijono, Ketua Asita DIY Udhi Sudiyanto, Ketua Asita Jawa Tengah Joko Suratno, dan Octo Lampito, Pemimpin Redaksi salah satu media massa lokal DIY.

Janianton Damanik mengatakan, dari pola perjalanan wisata yang sebelumnya pernah dibuat, menunjukkan sekitar 80,8 persen wisatawan menjadikan Joglosemar sebagai single destination. Artinya Joglosemar punya daya tarik luar biasa. Kemudian dari pergerakan wisatawannya, diketahui memusat di tiga kota yaitu Yogyakarta, Solo dan Semarang. “Jogja menjadi magnet karena menerima lebih banyak wisatawan dari Solo dan Semarang, tapi mengirim lebih sedikit ke Solo dan Semarang,” sambung dia.

Lebih lanjut Janianton menjelaskan, banyak manfaat yang diperoleh ketika pengembangan destinasi wisata dilakukan berdasarkan pola perjalanan wisata (travel patterns) yang disusun berdasarkan data lengkap yang menurutnya ada sekitar 13 parameter. Ke-13 paramater itu antara lain, bisa diketahui secara tepat atraksi-atraksi apa saja yang perlu ditambah untuk meningkatkan daya tarik destinasi, desain paket wisata yang ditawarkan akan semakin kompetitif meliputi harga, lama perjalanan, sehingga perjalanan wisata menjadi semakin optimal. “Jika travel patterns Joglosemar yang baru dan lebih lengkap selesai disusun, itu akan semakin meningkatkan daya saing pariwisata Joglosemar,” tandas dia.


Gading Persada

5 Komentar

  1. Like!! Great article post.Really thank you! Really Cool.

  2. Good one! Interesting article over here. It’s pretty worth enough for me.

  3. I used to be able to find good info from your blog posts.

Tinggalkan Balasan