Bertani Hidroponik, Usaha Prospektif Kaum Milenial di Tengah Pandemi Covid-19

KEBUMEN, SM Network – Pandemi Covid-19 yang tidak kunjung berlalu memberi dampak berarti bagi masyarakat. Terutama kalangan milenial atau pihak yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) gegara korona. Seperti dialami Muhammad Arifin (24), warga Desa Miritpetikusan, Kecamatan Mirit, Kebumen.

Ia yang baru di-PHK dari salah satu perusahaan otomotif di Jakarta pun mencari alternatif usaha yang tepat. Ketemulah hidroponik yang mengantarkannya menjadi usahawan dengan penghasilan menjanjikan. “Kuntungannya memang lumayan besar dengan hanya bermodal relatif kecil,” ungkap Arifin yang ditemui di kediamannya, Sabtu (29/8).

Ia menjelaskan, hidroponik merupakan suatu sistem tanam menggunakan air sebagi media tanamnya. Dengan bertani hidroponik, lanjutnya, bisa memanfaatkan lahan sempit seperti di sekitar rumah. Perawatannya pun minim dan mudah. Oleh karena itu, berwirausaha hidroponik sangat cocok dalam kondisi seperti sekarang ini.

Arifin mengatakan, tidak sulit memulai usaha hidroponik, lantaran bisa memanfaatkan barang bekas untuk skala kecil atau sekedar menyalurkan hobi. Jika ingin memulai usaha skala besar pun modalnya relatife kecil. Ia yang terinspirasi temannya yang lebih dulu usaha hidroponik itu mengaku hanya bermodal Rp 3,5 juta dan berbekal dari belajar lewat media sosial.

“Saya memberanikan diri memulai usaha hidroponik dengan area lahan sekitar 5 m2 dan memuat sebanyak 450 lubang tanam,” ucapnya. Arifin menggunakan rangka bambu untuk instalasi serta paralon 2 inchi sebanyak 25 buah yang dilubangi 25 titik perpipa. Untuk tambahan alat menggunakan pompa air. Arifin mengaku menggunakan pompa air berdaya rendah yang biasa digunakan pada aquarium.

Dari modal sekitar Rp 3,5 juta itu termasuk pembelian perlengkapan seperti pipa, pompa air 1 buah, satu set alat ukur nutrisi, tempat air dengan kapasitas 200 liter serta rangka instalasi dari bambu dan perlengkapan pendukung lainnya. “Itu sudah termasuk murah, karena perlengkapannya dapat digunakan terus menerus,” tutur Arifin.

Selanjutnya, terang Arifin, modal yang dikeluarkan hanya untuk pembelian bibit dan nutrisi serta perawatan ringan. Untuk perawatannya hanya menghidupkan pompa air dengan diberi nutrisi saat tanaman terkena sinar matahari. Jadi, kalau malam pompanya dimatikan. Ia lantas menunjukkan tanaman pakcoy (sejenis sawi) bisa dipanen setelah 30 hari tanam, dengan satu batang biasa dihargai Rp 1000 di pasar tradisional kebumen.

Harga di luar Kebumen hasil pantauan di media sosial berkisar Rp 1500 – Rp 3000 perbatang. Sehingga, dalam sebulan, Arifin bisa meraup uang sekitar Rp 675.000 atau laba bersih sekitar Rp 500.000 dari 450 lubang tanam. “Harga tersebut bisa lebih mahal lagi, karena sekarang masih belum menemukan pangsa pasar yang ideal untuk tanaman hidroponik,” sergahnya.

Ke depan diharapkan ada yang mampu menyalurkan produk tanamannya agar harganya lebih tinggi lagi. Dari ilmu yang diperoleh melalui YouTube itu, Arifin berhasil membuat sendiri usaha hidroponik. Usaha tersebut menjadi solusi bagi dirinya yang terkena PHK gegara korona. Begitu pula bagi kalangan milenial.

Tinggalkan Balasan