Bantuan Covid-19 Dipotong 50 Persen, Warga Desa Girijoyo Kemiri Purworejo Mengeluh

PURWOREJO, SM Network – Warga Desa Girijoyo Kecamatan Kemiri, mengeluhkan adanya pemotongan bantuan covid-19, yang dilakukan oleh pemerintah desa setempat. Besaran potongan bahkan mencapai separuh (50%) dari jumlah nominal bantuan yang seharusnya diterima masyarakat.

Dikatakan oleh penerima BLT DD (Bantuan Langsung Tunai Dana Desa), Nasukha (34), warga RT 2 RW 1 Desa Girijoyo, yang mengaku diminta menyetorkan uang sebesar Rp 300 ribu, kepada pemerintah desa dengan alasan akan dipergunakan untuk memberi warga lain yang belum mendapat bantuan, akibat terdampak pandemi covid-19.

“Sebelum menerima kami diundang rapat oleh pemerintah desa, katanya akan dapat bantuan tetapi dipotong Rp 300 ribu untuk pemerataan. Pada saat itu saya sendiri tidak tahu dan takut mau protes, kemudian disuruh menandatangani surat kesanggupan untuk dipotong. Pada saat pengambilan bantuan, saya menerima utuh Rp 600 ribu, terus dihadang perangkat (desa) meminta uang Rp 300 ribu. Pada saat itu saya juga melihat yang lain digitukan (dipotong),” katanya kepada Suara Merdeka, siang hari ini. Senin (06/07/2020).

Nasukha mengatakan, rapat yang diselenggarakan oleh pemerintah desa untuk membahas pemotongan itu dipimpin langsung oleh kepala desa. Dalam rapat tersebut, kata Nasukha, ada warga yang interupsi, memperingatkan jika rencana pemotongan yang akan dilakukan pemerintah desa, tidak dibenarkan secara hukum, namun aspirasi tersebut tidak diindahkan dan pemerintah desa tetap bersikukuh menerapkan kebijakan tersebut.

“Ada yang protes pada saat rapat itu, tetapi merasa ditekan, terus dia marah lalu keluar, namun pemerintah desa tetap saja kekeh (akan memotong BLT DD). Saya sebenarnya ya tidak setuju dipotong, tetapi takut mau usul,” katanya.

Saat memberikan keterangan, Nasukha tidak sendirian. Ia didampingi oleh warga setempat yang juga mengalami hal yang sama, Parjiono (60), dan Nurohman (60). Mereka juga mengaku dipotong Rp 300 ribu, bedanya Parjiono mengaku tidak ikut menandatangani kesanggupan untuk dipotong.

“Saya dapatnya (bantuan BLT DD) pada tahap dua, jadi tidak ikut diundang rapat dan tandatangan untuk dipotong itu. Pasa saya ngambil (bantuan) juga utuh, disaksikan orang dari kecamatan juga kalau tidak salah, keluar dari ruangan saya dihadang pak kaur kesra, saya disuruh cepat-cepat menyerahkan uangnya (Rp 300 ribu),” tandasnya.

Hal yang sama juga dialami oleh penerima BST Covid-19 warga RT 1 RW 1 Desa Girijoyo, Endah Setyati (52). Ia mengungkapkan, setelah menerima bantuan dari pemerintah pusat tersebut diminta untuk menyetorkan uang Rp 300 ribu kepada perangkat desa. Alasanya masih sama, yakni untuk pemerataan.

“Saya beberapa kali di WA (dihubungi melalui WhatsApps), ditanya sudah cair apa belum gitu, pas sudah cair saya diminta memberikan yang Rp 300 ribu itu untuk pemerataan. Sudah dua kali saya dipotong,” katanya.

Endah juga mengakui, dirinya pernah mengikuti rapat dengan pemerintah desa setempat untuk membahas mengenai rencana pemotongan bantuan tersebut. Namun demikian, Ia mengaku tidak tahu aturan, tentang boleh tidaknya kebijakan memotong bantuan itu.

Kepala Desa Girijoyo, Jaeman, saat dikonfirmasi Suara Merdeka di kantornya, menjelaskan, pihaknya membenarkan adanya potongan tersebut. Menurutnya, kebijakan itu dilakukan atas dasar persetujuan warga penerima dan seluruh elemen masyarakat.

“Itu hasil kesepakatan bersama, untuk menghindari adanya gejolak di masyarakat antara yang menerima dengan yang belum menerima, dan kesepakatan itu tertulis dan ditandatangani seluruh penerima,” kata jaeman.

Jaeman memastikan, pemerintah desa Girijoyo tidak akan menerapkan kebijakan tersebut jika ada penolakan dari masyarakat. Pemerintah desa, lanjut Jaeman, tidak akan berani mengambil kebijakan tersebut jika tidak siap akan konsekuensi yang akan ditimbulkan.

“Kita ada itu suratnya (surat pernyataan), itu yang akan menjadi buktinya,” ujarnya.

Dikatakan Jaeman, hasil pemotongan bantuan tersebut digunakan sepenuhnya untuk meberikan bantuan kepada seluruh masyarakat, yang sama sekali belum menerima bantuan, tidak ada yang mengalir kepada pribadi perangkat desa, termasuk dirinya sebagai kepala desa.


Heru Prayogo

4 Komentar

  1. Like!! Thank you for publishing this awesome article.

  2. I am regular visitor, how are you everybody? This article posted at this web site is in fact pleasant.

Tinggalkan Balasan