Bahaya Merapi Berpotensi Mengarah ke Selatan Barat Daya

MUNGKID, SM Network – Sejak 5 November 2020 status Merapi telah dinaikkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III). Diketahui pada hari ini, Senin (18/1) Merapi telah memuntahkan awan panas sebanyak 1 kali, dengan jarak luncur 1000 meter dan tinggi kolom 50 meter ke tenggara arah barat daya. Guguran lava pijar juga terlihat sebanyak 6 kali, dengan jarak luncur maksimum 600 meter ke arah barat daya.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, mengatakan bahwa saat ini pihaknya telah menerima rekomendasi dari BPPTKG.

“Tentu kemudian kami bahas bersama tim dan akan kami sampaikan pada Bapak Bupati untuk menjadi sebuah masukan,” terang Edy saat di wawancarai Senin (18/1).

Edy juga menerangkan berdasarkan surat rekomendasi dari BPPTKG, salah satu kesimpulannya yaitu daerah zona bahaya yang direkomendasikan telah bergeser. “Kalau dulu ke barat, ke barat laut sekarang ke selatan barat daya. Karena potensi erupsinya lebih didominasi oleh erupsi efusif maka rekomendasinya adalah alur sungai,” terangnya.

Saat ini potensi bahaya dari Merapi bersifat efusif yang mengarah pada aliran sungai diantaranya kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan putih maksimal sejauh 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif, dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

“Kalau jaraknya 5 km, maka wilayah kita semuanya melebihi 5 Km itu pun dari sungai. Untuk letusan eksplosif sendiri peluangnya masih sekitar 20 persen. Artinya tidak nol atau masih ada kemungkinan meskipun kecil,” ujar Edy.
Namun hal tersebut tidak boleh disepelekan, sebab masih ada sedikit peluang untuk letusan eksplosif. “Kita juga harus belajar dari kasus Semeru, yakni statusnya masih waspada namun sudah erupsi. Nah hal-hal yang terjadi di sekitar kita, saya mencoba untuk menjadikannya referensi agar langkah kita tepat. Karena kita berorientasi pada penyelamatan jiwa manusia,” katanya.

Untuk rekomendasi bagi pengungsi dari Pemerintah Kabupaten sendiri masih berdasarkan rekomendasi dari BPPTKG. “Srumbung itu kalau desanya berjarak 15 km, sedangkan untuk Dusun Kaliurang jaraknya sudah lebih dari 7 km. Sehingga jangkauan yang 5 km dan 3km dari yang direkomendasikan oleh BPPTKG, tidak ada yang masuk di zona itu,” papar Edy.

Menanggapi para pengungsi yang kembali ke desa asalnya dan kembali lagi ke tempat pengungsian, Edy beranggapan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor psikologis para pengungsi. “Jumlah pengungsi sendiri masih fluktuaktif. Kalau yang pulang mandiri kita kan tidak lantas selesai tugasnya, namun tetap mengedukasi mereka tentang kegiatan yang sifatnya mitigasi. Jadi kita tetap mendampingi tak kemudian terus selesai,” jelasnya.

Untuk tanggap darurat terkait kondisi Merapi, Bupati Magelang telah memperpanjang mulai tanggal 16 Januari sampai 14 Februari. “Hal tersebut mempertimbangkan status Merapi yang masih siaga, kemudian pengungsian masih ada meskipun masih ada warga yang kembali dan turun ke pengungsian lagi,” kata Edy.

Edy juga mengatakan bahwa para pengungsi telah beradaptasi dengan lingkungan, untuk menghilangkan rasa bosan. “Untuk mengatasi kebosanan di pengungsian para pengungsi sudah melakukan adaptasi seperti Desa Krining di Desa Deyangan mereka setiap pagi, ibu-ibunya berjalan-jalan ke sawah, lalu setiap sore anak-anak di ajarkan untuk mengikuti kegiatan mengaji atau bermain bola,” pungkasnya.

Diketahui bahwa jumlah pengungsi saat ini berjumlah 501 jiwa yang berada di 4 titik lokasi pengungsian. Dengan paparan sebagai berikut Desa Krinjing sebanyak 121 jiwa, Desa Keningar sebanyak 38 jiwa, serta pengungsi dari Desa Paten sebanyak 342 jiwa.

Tinggalkan Balasan