Atasi Kendala PJJ, Sekolah Berangkatkan Guru ke Desa

PURWOREJO, SM Network – Mengatasi kendala dalam proses belajar jarak jauh (PJJ), SMP Negeri 40 Purworejo memberangkatkan 24 guru mata pelajaran untuk mengunjungi kelompok belajar (pokjar) yang ada di 12 desa di Kecamatan Pituruh.

Puluhan guru tersebut ditugaskan untuk mengatasi kendala belajar yang dialami siswa selama PJJ. Kepala SMP 40 Purworejo, Himawan Susrijadi, mengatakan bahwa diberangkatkannya guru untuk menindaklanjuti pembentukan pokjar di desa.

“Secara resmi kami sudah mulai memberangkatkan guru untuk mengunjungi pokjar di desa. Tahap awal ada 24 guru untuk 12 desa,” kata Himawan Susrijadi, Senin (24/8).

Siswa SMP 40 yang tinggal satu desa dan memiliki keterbatasan akses internet, sudah mulai belajar bersama secara daring dan terbatas, dengan difasilitasi internet desa. Meski demikian, seringkali muncul pertanyaan dari siswa terkait materi pelajaran yang tidak dipahami. Oleh karena itu, diberangkatkan guru untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Kami berangkatkan guru untuk memberikan materi langsung, menjawab pertanyaan siswa, hingga mengumpulkan tugas,” paparnya.

Himawan menambahkan, sekolah tetap menerapkan pembatasan jumlah maksimal siswa dan protokol kesehatan dalam pembelajaran tersebut. Guru wajib memakai face shield, masker, sarung tangan karet, dan membawa hand sanitizer. Begitu pula siswa harus memakai masker dan menjaga jarak saat proses pembelajaran.

“Sebelum dan sesudah bertemu, guru maupun siswa wajib mencuci tangan atau memakai hand sanitizer yang dibawa,” imbuhnya.

Camat Pituruh, Yudhie Agung, menyampaikan bahwa Pemkab mengapresiasi terobosan yang dilakukan SMP 40 Purworejo. Pemerintah Kecamatan juga turut memfasilitasi dengan mengirim surat kepada desa agar ikut membantu sarana internet dalam pembelajaran daring.

“Seluruh di Pituruh menyatakan siap mendukung proses pembelajaran itu. Desa di Pituruh sudah terjangkau internet, tapi memang ada daerah yang belum merata karena topografinya berbukit,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Pituruh, dr Sutrisno, meminta agar sekolah benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Sejauh ini, pihaknya menilai SMP 40 telah menerapkan protokol dengan ketat dalam proses pembelajaran tersebut.

Menurutnya, sekolah juga harus melakukan pemetaan untuk menemukan siswa berisiko tinggi. Pemetaan perlu dilakukan karena dimungkinkan ada orang tua siswa yang memiliki mobilitas antar daerah yang tinggi.

“Sehingga perlu kebijakan tersendiri. Kebanyakan anak yang sakit itu tertular dari orang tuanya, maka perlu ada pemetaan. Jika ada (anak) yang sakit, diharap tidak ikut proses di pokjar,” imbuhnya.


Panuju Triangga

Tinggalkan Balasan