Apindo: Kota Magelang Kota Seribu Baliho

MAGELANG, SM Network – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang menyayangkan berdirinya reklame di Persimpangan Kebonpolo Jalan Ahmad Yani Magelang yang merusak estetika kota. Selain ukuran yang terlalu besar, penempatan juga di area terlarang untuk pendirian reklame atau baliho.

Ketua Apindo Kota Magelang, Eddy Sutrisno mengatakan, dari kacamata pengusaha pemasangan reklame di lokasi itu memang strategis, karena dapat dilihat langsung oleh pengendara yang berhenti di lampu bangjo sisi timur (Jalan Urip Sumoharjo). “Tapi, tidak juga kita melanggar aturan. Baliho yang terpasang itu sangat tidak etis dan dari aspek estetika tidak ada. Ukuran juga terlalu besar, sehingga menutupi apa yang menjadi keindahan di belakangnya, yakni taman kota dan landmark tanggul Kali Kota,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (24/2).

Sebagai warga Kota Magelang, ia juga merasa prihatin kenapa hal itu bisa terjadi. Meskipun reklame itu sendiri saat ini sudah dicopot oleh pemiliknya setelah banyak diprotes oleh warga, terutama mereka yang memiliki perhatian kepada keindahan tata kota.

“Saya tidak mengerti pola pikir pemasangnya kenapa berani memasang itu yang jelas melanggar aturan. Tidak masuk di akal. Meskipun memang sudah dicopot, tapi tetap saja mengherankan,” katanya.

Mantan Anggota DPRD Kota Magelang itu menilai, Kota Magelang bukan Kota Sejuta Bunga, tapi kota seribu baliho. Ia pun memberi masukan kepada Pemkot Magelang di bawah kepemimpinan wali kota yang baru nanti untuk dapat mengurangi baliho-baliho itu.

“Saya harap baliho ke depan dapat dikurangi. Pemasangan pun saya harap harus memerhatikan estetikanya, tidak asal pasang saja demi bisnis atau ekonomi,” tandasnya.

Sebelumnya, warga ramai-ramai memprotes berdirinya reklami berukuran besar itu di persimpangan Kebonpolo. Pasalnya, reklami itu berdiri menutup landmark tanggul Kali Kota yang bertuliskan “Magelang Kota Sejuta Bunga”. Selain juga menutupi taman di sekitarnya.

Protes warga pun berbuah ide kreatif. Melalui media sosial, warga mengunggah foto reklame tersebut dengan gambar-gambar yang bervariasi. Sehingga, kesan protes pun tidak berbau kasar, tapi secara halus.

Setelah diprotes, reklame kemudian dicopot oleh pemiliknya pada Sabtu (20/2) malam. Pencopotan ini pun atas desakan dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Satpol PP Kota Magelang.

Kepala Satpol PP Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana saat dihubungi mengutarakan, pendirian reklame tersebut belum diterbitkan izinnya. Pihaknya pun sudah memanggil pihak pemasang untuk mengkonfirmasi keberadaan reklame itu.

“Izin belum diterbitkan, dan Jumat kemarin sudah kita panggil ke kantor. Tempat berdirinya reklame itu berada di area larangan, karena dekat dengan alat pengatur lalu lintas dan kawasan taman,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan