APD Minim, Tenaga Kesehatan Was-was Tangani Pasien Indikasi Covid-19

KEBUMEN, SM Network – Salah satu permasalahan dalam penanganan pasien dengan gejala mirip virus corona adalah minimnya alat pelindung diri (APD). Di layanan kesehatan baik  dari lini dokter praktik pribadi, klinik, puskesmas dan rumah sakit  ketersediaan APD semakin menipis.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kebumen dokter Andika Purwita Aji menyampaikan, APD sudah sangat langka. Bahkan rumah sakit yang sudah menyiapkan APD sebelum covid merebak, kebutuhannya lebih banyak daripada yang diperkirakan sehingga stoknya sudah menipis.

Tanpa APD memadai, tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 berisiko tinggi tertular virus. Pihaknya butuh dukungan dari stakeholder terkait dengan pemenuhan APD yang menjadi senjata menghadapi pasien dengan idikasi Covid-19. 

“Tanpa APD mau maju saja sudah ketakutan,” ujar Andika Purwita Aji di sela-sela audiensi dengan Wakil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto selaku Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Andika berharap APD tersedia dengan mudah baik dari lini dokter praktik pribadi, klinik, puskesmas dan rumah sakit. Terutama harga sekarang ini sudah melambung tinggi. Hal ini untuk melindungi tenaga medis sebagai garda depan dalam menangani pasien indikasi Covid-19. Saat ini IDI Cabang Kebumen mengadakan 1.000 hand sanitizer untuk dibagikan kepada tenaga kesehatan.

Di masyarakat IDI Kebumen akan membagikan stiker dan leaflet untuk sosialisasi masalah corona. Juga agar masyarakat benar-benar memaham social distancing. “Harapannya masyarakat bisa melaksanakan dan patuh dari diri sendiri untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Jumat (20/3) jumlah orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 85 orang. Kemudian pasien dalam pengawasan (PDP) orang. Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit.

Para pasien masih diisolasi di ruang isolasi. Meski rontgen sudah dilakukan tetapi masih menunggu pemeriksaan swab tenggorokan. Padahal pemeriksaan swab tenggorokan adalah golden diagnosa dari Covid-19.

“Harapan dari praktisi medis, ada rapid test untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi Corona atau tidak. Namun sampai saat ini baru dengan pemeriksaan swab tenggorokan yang membantu dalam menegakkan diagnosa,” ujar Direktur RS PKU Muhammadiyah Petanahan tersebut.  

Jika memungkinkan, di Kebumen perlu ada satu atau dua titik untuk melakukan swab. Sehingga deteksi kasus bisa lebih cepat. “Tidak seperti sekarang ini, kita sudah banyak PDP tetapi masih kesulitan untuk menentukan apakah positif atau tidak,” ujarnya seraya menambahkan dengan deteksi kasus lebih awal otomatis akan segera dilakukan penanganan lebih lanjut. 

Lebih lanjut Andika meminta kepada tenaga kesehatan untuk tetap semangat. Mengingat beberapa prediksi saat ini masih di awal periode. Jadi masih panjang lagi sehingga tingkat stres perlu dijaga.

“Aturan-aturan yang belum jelas membuat mereka kebingungan dalam mengelola pasien. Saya minta tetap bersabar dan menunggu aturan yang lebih pasti supaya tidak kebingunan lagi,” tandasnya.

Sediakan Anggaran Dalam rangka pencegahan penularan virus Corona, Pemkab Kebumen menyediakan anggaran Rp 730 juta. Anggaran itu merupakan pergeseran dana untuk kegiatan pada Dinas Kesehatan Kebumen.

Kepala Dinas Kesehatan Kebumen dokter Dwi Budi Satrio mengatakan, kebutuhan anggaran kegiatan pencegahan virus corona terbagi untuk pencegahan, mulai dari sosialisasi, penyediaan sarana kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, maupun penyiapan untuk perawatan pasien yang tidak tercover BPJS Kesehatan.

“Anggaran dari kami Rp 730 juta kemudian dari Baznas Kebumen Rp 400 juta,” katanya seraya menyebutkan pihaknya akan memaksimalkan anggaran yang ada. Jika dilihat dari segi ketersediaan anggaran yang ada, angka ini cukup minim.

Anggaran yang disiapkan RSUD Dr Soedirman Rp 4,4 miliar terkait penanganan virus corona. Untuk penunjang medis seperti bad pasien, APD Rp 1 miliar, penunjang non medis Rp 1 miliar, dan obat serta laboratorium Rp 2,4 miliar.

Wakil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menjelaskan, anggaran yang telah ada di Dinas Kesehatan untuk penanganan pasien dan penyediaan alat pelindung diri (APD) di rumah sakit seperti pakaian, helm khusus dan lain sebagainya.

Selain itu juga penyediaan masker dan desinfektan untuk penyemprotan pencegahan penyebaran virus corona. “Kami juga mengupayakan adanya CSR dari beberapa pengusaha. Sudah ada yang menyatakan siap membantu,” tandasnya.


Supriyanto

Tinggalkan Balasan