SM/Raditia Yoni Ariya - BAGI MASKER: Petani tembakau membagi masker untuk pengendara dan pedagang di sekitar Pasar Kliwon Temanggung, Sabtu (18/4).

TEMANGGUNG, SM Network – Para pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung mengkampanyekan penggunaan masker di pasar tradisional untuk mengantisipasi penularan virus korona jenis baru atau (COVID-19). Dalam kampanye penggunaan masker di sekitar Pasar Kliwon Temanggung, para pengurus APTI membagikan masker kepada para pedagang, pengunjung pasar, dan pengguna jalan yang melintas di depan pasar.

Selain membagikan masker, mereka juga menempelkan stiker bertuliskan ” Maskeran Tetap Keren” di sejumlah kendaraan yang diparkir di pinggir Jalan S. Parman Temanggung. Ada juga stiker bertulisan bahasa Jawa dialek khas Temanggunggan, yakni “Macul Maskeran, Nandur Mbako Maskeran, Ring Pasar Maskeran, Ngibadah Yo Maskeran”.

“Kita mendukung program pemerintah, kita memaskerisasi masyarakat Kabupaten Temanggung sebagai upaya mencegah penularan COVID-19. Ini bentuk kepedulian APTI untuk ikut mengantisipasi penyebaran pandemi corona yang telah melanda seluruh dunia,”ujar Yamuhadi salah satu pengurus APTI Temanggung, Sabtu (18/4).

Pada bakti sosial di Pasar Kliwon Temanggung itu dibagikan 2.500 masker, sedangkan ke depan kegiatan itu juga akan dilakukan di beberapa pasar tradisional lain di Temanggung. Dia menuturkan masker yang dibagikan kepada masyarakat tersebut sebagian dibuat para petani tembakau dan sebagian lainnya membeli.

“Ini benar-benar swadaya pengurus APTI dan dukungan seluruh petani tembakau di Kabupaten Tamenggung. Kegiatan ini dilakukan karena kesadaran masyarakat Temanggung untuk memakai masker masih rendah. Selain itu, adanya kesulitan warga untuk mencari masker, apalagi dengan adanya pandemi corona membuat harga masker mahal,”katanya.

Waltiyem (53), seorang pedagang di Pasar Kliwon mengucapkan terimakasih atas bantuan dari APTI sehingga dirinya bisa memakai masker saat berjualan. Diakuinya ada rasa takut akan korona, tapi kebutuhan perut membuat dirinya terpaksa tetap berdagang.


Raditia Yoni Ariya

1 KOMENTAR