Ancam Tembak dan Peras Korbannya, Napi Asimilasi Nusakambangan Dihajar Warga

TEMANGGUNG, SM Network – Kekhawatiran masyarakat Temanggung akan adanya napi asimilasi yang melakukan kejahatan lagi akhirnya terbukti. Surani (39), napi asimilasi LP Nusakambangan, Kabupaten Cilacap yang belum lama dibebaskan karena kebijakan Kemenkumham ini, kedapatan melakukan pemerasan disertai ancaman menembak korbannya. Hal itu dilakukan saat Surani memaksa meminta uang kepada korban yang disebutnya bernama Harno, warga Dusun Paladan, Desa Tegalsari, Kecamatan Kedu.

Kapolres Temanggung AKBP Muhamad Ali mengatakan, tersangka melakukan aksinya dengan mendatangi rumah korban lalu tanpa basa basi melakukan pemerasan dengan meminta sejumlah uang disertai ancaman akan menembak korbannya. Aksinya pun kembali diulang Selasa (12/5) petang, namun yang kedua diketahui anak korban yang melihat bapaknya dalam ancaman kekerasan langsung berlari keluar rumah dan meminta bantuan warga desa.

“Tersangka menakut-nakuti korban bahwa dirinya adalah napi dari LP Nusakambangan dan mengncam akan menembak korban kalau tidak mau memberi uang. Sebelum diamankan oleh petugas, tersangka sudah menjadi bulan-bulanan massa yang terlanjur jengkel hingga babak belur. Beruntung petugas kami langsung datang ke lokasi, tersangka langsung bisa diamankan dari amukan massa,”katanya kemarin.

Ali menyebut tersangka Surani adalah warga Dusun Cengan, Desa Jeketro, Kecamatan Kledung merupakan narapidana asimilasi dari Lapas Nusakambangan, Kabupaten Cilacap dengan kasus pelanggaran UU Perlindungan Anak dengan hukuman selama 11 tahun penjara. Tapi karena ada program asimilasi dari Kemenkumham beberapa waktu lalu, napi itu dibebaskan melalui program tersebut. Tapi rupanya dia tidak bisa merubah tabiatnya dan kembali melakukan kejahatan berupa pemerasan.

Kasat Reskrim Polres Temanggung AKP M Alfan Armin, menjelaskan meski saat ini yang bersangkutan dikembalikan lagi ke Nusakambangan, namun tetap akan menjalani hukuman sesuai dengan tindak kejahatan yang dilakukan saat ini, yakni tindak pemerasan.

“Proses hukum tetap jalan, namun untuk saat ini tersangka akan wajib menjalani masa sisa hukuman dari tindak kejahatan yang pertama. Tersangka dijerat dengan Pasal 368 KUH Pidana dan atau Pasal 335 KUH Pidana dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara,”katanya.


Raditia Yoni Ariya

Tinggalkan Balasan