Anak Tewas Dianiaya, Ibu Mengadu ke KPAI

YOGYAKARTA, SM Network – Pemeriksaan kasus penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya Lukman Rahma Wijaya (18) pada 8 Agustus 2020 lalu masih bergulir di Polres Bantul. Dalam perkara ini, polisi menetapkan 13 tersangka.

Sembilan pelaku masih dibawah umur yakni MREP (15), dan PES (17) yang merupakan tersangka utama serta AF (17), PEA (14), BAS (15), MFM (15), BPS (17), BWF (15), dan AWP (16). Empat pelaku lainnya berinisial MZ (19), M (21), ARZ (20), dan JRN (23). Mereka dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang kekerasan hingga menyebabkan meninggal.

Ancaman hukumannya minimal 12 tahun. Namun rupanya pihak keluarga korban memiliki persepsi lain. Ibu korban, Pradhita Indriani (35) menduga ada unsur pembunuhan berencana. Dugaan itu muncul lantaran melihat banyak luka pada tubuh anaknya antara lain di bagian mulut dan pelipis.”Kami yakin jika semua jenis siksaan sadis itu dapat terungkap, perkara ini dapat dikategorikan pembunuhan berencana,” kata warga Kauman, Wonokromo, Pleret, Bantul itu saat ditemui di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) DIY, Kamis (27/8).

Melihat luka-luka yang ada pada tubuh Lukman, dia mensinyalir masih ada barang bukti lain yang belum terungkap. Sejauh ini, barang bukti yang dikumpulkan polisi berupa gayung, kunci, dan gesper. Karena itu, pihak keluarga berupaya menggalang dukungan dari KPAI dengan harapan agar para pelaku dapat diproses hukum secara adil.

Direktur LKBH Pandawa yang mendampingi keluarga korban, Thomas Nur Ana menambahkan, pihaknya bukan tidak percaya terhadap kinerja Polres Bantul. Langkah menggandeng KPAI justru merupakan bentuk dukungan kepada aparat penegak hukum supaya kasus ini bisa ditangani sampai tuntas. “Perlu diingat bahwa korban juga anak-anak. Jangan karena alasan sebagian pelaku masih berusia anak, hukumannya dirasa tidak setimpal,” tegasnya.

Penyidik diminta mencermati apakah kasus ini masuk kategori penganiayaan ringan atau berat, bahkan kemungkinan unsur terencana juga perlu ditelusuri. Sementara itu, pihak KPAI mengungkapkan rasa prihatin karena pelaku dan korban sama-sama berusia anak. Terlebih, kasus kejahatan dengan melibatkan anak sudah sering terjadi di wilayah hukum DIY. “Ini harus jadi perhatian semua pengambil kebijakan. Polisi juga perlu menggandeng masyarakat untuk melindungi anak-anak, apalagi kondisi pandemi Covid-19 ini mereka sedang tidak belajar di sekolah,” kata Komisioner KPAI DIY Bidang Aduan dan Mediasi, Hari.

Selanjutnya, langkah KPAI adalah menguatkan kajian dengan menambah sejumlah data. Ke depan akan dijadikan gerakan advokasi untuk menekan angka kejahatan jalanan hingga level zero.


Amelia Hapsari

2 Komentar

  1. 848662 263927Wohh just what I was seeking for, appreciate it for putting up. 700736

  2. 721368 533696This internet internet site is my breathing in, actually great layout and perfect content . 471134

Tinggalkan Balasan