SM/Amelia Hapsari

YOGYAKARTA, SM Network – Setelah dinaikkan statusnya ke level Siaga pada 5 November 2020, aktivitas Merapi masih stabil tinggi. Analisis ini diukur dari beberapa parameter antara lain data seismik, deformasi, dan kimia.

“Parameter itu stabil tinggi, tapi tidak ada kenaikan yang signifikan. Sempat pula terjadi beberapa kali guguran yang agak jauh, pernah sampai jarak 3 kilometer,” ungkap Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida, Jumat (20/11).

Hasil kajian dan pengamatan secara visual menunjukkan, aktivitas Merapi saat ini memiliki kesamaan dengan erupsi 2006 silam. Namun diperkirakan tidak melebihi kekuatan erupsi tahun 2010. Salah satu indikasinya adalah tidak terdapat suplai magma baru dari dalam. Hal ini mendasarkan pada catatan gempa vulkanik dalam yang terakhir muncul tanggal 25 September 2020.

Dilihat dari posisi hiposenter gempa vulkanik di Merapi, dapat disimpulkan terdapat 2 kantong magma di Merapi. Kantong magma dangkal ada pada kedalaman kurang lebih 1,5 km dari puncak, sedangkan kantong magma dalam berada sekitar 5 km.

“Faktor yang mempengaruhi laju magma adalah komposisi terutama gas. Magma bergerak cepat menuju permukaan karena adanya dorongan gas,” terangnya.

Sumbatan yang ada di kawah terhitung tidak terlalu kuat akibat pengaruh terbentuknya kawah yang dalam pasca letusan 2010. Namun beberapa kejadian guguran lava dengan jarak luncur cukup jauh, mengindikasikan adanya desakan magma dari dalam. Akibat desakan itu, material di puncak yang kondisinya sudah tidak stabil akhirnya runtuh. Tapi dipastikan lava yang gugur itu adalah material lama.

Sebelumnya saat menerima kunjungan kerja Kepala Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) di kantor BPPTKG, Kamis (19/11), Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono menjelaskan, aktivitas yang terjadi di Merapi saat ini berpotensi memicu guguran lahar panas, tapi diperkirakan tidak lebih buruk dari erupsi 2010. “Dapat terjadi guguran lahar panas, namun bisa jadi tidak separah peristiwa 2010,” ungkapnya.

Meski demikian, hal itu tetap perlu diantisipasi oleh berbagai pihak. Selain berpotensi mengalami erupsi dengan tipe efusif yakni lava dari letusannya mengalir terus dari gunung ke tanah, Merapi kemungkinan juga dapat meletus secara eksplosif.
Sementara itu, Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, kelengkapan data dan informasi tersebut akan dijadikan bahan pertimbangan untuk pengambilan kebijakan selanjutnya. Dia meminta seluruh komponen fokus ke wilayah yang berpotensi terdampak, sesuai dengan skala prioritas.

“Dengan demikian, langkah-langkah kita harus mengarah kepada aspek prioritas,” jelas Doni.

Untuk mendukung penanganan bencana erupsi Merapi, BNPB menyiagakan satu unit helikopter jenis Dauphin. Helikopter itu dapat digunakan oleh pemerintah daerah yang mencakup wilayah administrasi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY.
Helikopter tersebut disiagakan di Lanud Adisutjipto Yogyakarta. “Nanti akan diatur oleh TNI,” jelasnya.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana mengatakan, daerah yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) sudah diminta untuk mengaktivasi desa tangguh bencana. Daerah ini tersebar di Kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi, dan Ngemplak. Pemerintah juga mulai melakukan pendataan terhadap warga yang tinggal di sektor barat lereng Merapi. Semisal di Dusun Turgo yang terdata sebanyak 510 penduduk dimana 196 orang diantaranya merupakan kategori rentan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here