SM/Dian Nurlita - Ratusan warga kembali ke pengungsian akibat meningkatnya aktivitas Merapi.

MUNGKID, SM Network – Warga Dusun Babadan I kembali mengungsi ke TEA Banyurojo, menyusul aktivitas Merapi yang meningkat. Proses evakuasi sendiri dilakukan Selasa (5/1) bagi kaum rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil.
Kegiatan evakuasi sendiri melibatkan personil TNI-Polri, BPBD Kabupaten Magelang dan relawan menggunakan puluhan kendaraan.

Sebelum warga Babadan I kembali mengungsi, Koordinator TEA Banyurojo Agus Firmansah telah melakukan berbagai upaya agar para warga mau kembali mengungsi.

“Kemarin tanggal (4/1) kami mengundang BPPTKG ingin mengetahui kondisi terkini merapi. Saya kemarin inisiatif untuk mengundang BPPTKG dan mengutus 10 orang untuk melakukan sosialisasi di sana. Kemudian kami mengundang kepala desa beserta perangkatnya serta perwakilan unsur Dusun Babadan 1 dan 2,” jelas Agus.

Hal tersebut dilakukan karena kondisi Merapi saat ini tidak dalam kondisi membaik tetapi dalam kondisi yang semakin meningkat. “Kemudian teman-teman di Babadan juga diyakinkan terus, karena kondisi Merapi sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi,” imbuhnya.

Melihat pengungsi yang kembali sebelumnya sebetulnya pihaknya tidak mengizinkan, sebab SK Bupati terkait tanggap darurat terus diperpanjang. Pihaknya juga menggandeng BPBD untuk bisa meyakinkan mereka kembali ke pengungsian terutama terkait fasilitasi atau akomodasi dan sebagainya.

“Tadinya dijanjikan hari Kamis kembali, ternyata hari ini jam 12. Saat ini yang mengungsi merupakan kaum rentan kemudian yang datang saat ini sedikit lebih banyak dari pada yang jilid pertama. Informasi yang saya tangkap penambahan ini karena warga sudah merasakan kekhawatiran,” terang Agus.

Diketahui bahwa warga Babadan 1 masih ada sekitar 45 persen yang belum mengungsi. “Hari ini sebanyak 303 jumlah jiwa, yang mengungsi. Dengan kondisi pengungsi saat ini mengalami penambahan karena kekhawatiran warga. Yang kemarin belum mengungsi saat ini sudah mengungsi. Penambahannya belum signifikan dari 286 menjadi 303,” terangnya.

Sementara itu salah satu penghuni bilik pengungsian, Sumiyati (38) menuturkan bahwa dirinya bersedia menungsi karena keinginannya. “Saya mengungsi karena memang khawatir dengan kondisi Merapi. Suara gemuruh dari gunung lebih sering daripada sebelumnya, jadi disuruh ngungsi ya saya manut aja”. Beliau menghuni bilik pengungsian beserta 3 Kepala Keluarga (KK) lainnya.