SMN/dok - CUCI TANGAN: Wawali Jogja Heroe Poerwadi mencoba menggunakan fasilitas cuci tangan yang merupakan bantuan dari salah satu BUMN untuk pencegahan Covid-19 dan terpasang di Pasar Beringharjo Kota Jogja.

YOGYAKARTA, SM Network – Penyebaran virus covid-19 di Indonesia masif terjadi, termasuk di DIY. Hampir sebulan, sepanjang Maret ini setidaknya sudah 9.000 menjalani pemeriksaan kesehatan di sejumlah instalasi kesehatan di Kota Jogja dengan beberapa hasil berbeda.

“Selama 1-29 Maret ada 9.000 orang sudah diperiksa di puskesmas-puskemas, RS Jogja (RSUD Wirosaban), dan RS Pratama di Kota Jogja. Siapa mereka, sebagian besar adalah mereka yang baru pulang dari bepergian, dan mungkin juga yang sudah mudik. Tapi, itulah kesadaran warga, datang sendiri dan memeriksakan diri,” papar Wakil Walikota (Wawali) Jogja Heroe Poerwadi, kemarin.

Heroe menyebutkan, dari 9.000 orang yang diperiksa, diketahui 267 ODP (Orang Dalam Pemantaua), 9 PDP (Pasien Dalam Pengawasa) dan 2 positif Covid-19. Untuk yang positif, satu diantaranya sudah sehat dan telah melewati masa inkubasi dan tinggal menunggu hasil uji laboratorium.

Sebelumnya, di Keparakan ada balita positif, dan dua orangtuanya berstatus PDP, dan keluarga dalam satu rumah sebanyak 19 orang berstatus ODP. Namun, saat ini seluruhnya sudah sembuh.

“Sedangkan yang 9 PDP itu semula ada 23 dan 14 diantaranya sudah sembuh. Dan di Jogja tidak ditemukan kasus dari ODP naik jadi PDP. Hal ini karena semua berkat kerja keras Dinkes, RS Jogja, RS Pratama dan Puskesmas serta kesadaran masyarakat, semuanya masih bisa ditangani,” papar Wawali.

Hingga 29 Maret, lanjut Heroe, hampir 75 persen wilayah di Kota Jogja sudah melakukan penyemprotan disinfektan.”Di kampung-kampung, hampir semua pertokoan, pasar, tempat publik menyediakan tempat cuci tangan, yang istimewanya dilakukan secara swadaya masyarakat,” tutur dia.

Terkait maraknya aksi local lockdown yang dilakukan masyarakat, Wawali meminta hal tersebut dipikir secara jernih dan tidak panik. Sebab, setiap kota kondisi dan kemampuan berbeda-beda dimana masyarakatnya juga punya sikap tak sama.

Kota Jogja, tambahnya, mendasarkan pada gerakan riil yang jelas akan mengurangi dan memutus mata rantai sebaran virus korona. Bukan aksi-aksian semata.”Lockdown atau karantina wilayah apakah kita sudah siap? Apakah masyarakat siap hanya di rumah saja. Apakah kita semua sudah siap punya logistik untuk makan pada saat semua produktifitas ekonomi menurun semua.

Apakah pemerintah cukup dana untuk menyiapkan logistik seluruh kota dalam waktu sebulan atau dua bulan,” papar Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja ini.Dia pun membayangkan jika semua kota me-lockdown-kan diri. Maka akan muncul pertanyaan lagi tentang kesulitan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Orang-orang di Jakarta membeli barang kebutuhan saat ini secara online. Menerima barang dengan jarak tertentu dan uang langsung masuk dalam plastik dan langsung semprot pula. Karena tidak percaya semuanya bersih. Tapi apakah kota lain sudah seperti yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Heroe.

Atas dasar itu, Wawali berharap kesadaran masyarakat yang pulang dari bepergian segera memeriksakan diri serta adanya kesadaran masyarakat untuk  menjaga lingkungannya .”Dengan terus bersih dan semprot secara mandiri dan semangat, atas kerjasama semua pihak, sehingga kita bisa terus menanganinya,” tandas Wawali.


Gading Persada

1 KOMENTAR