70 Apoteker Lulusan USD Diambil Sumpah

SLEMAN, SM Network – Sebanyak 70 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) berhasil menyelesaikan. Para lulusan menjalani prosesi pengambilan sumpah, Rabu (11/11).

Karena masih berada di tengah situasi pandemi Covid-19, pengambilan sumpah secara langsung diwakili oleh lima orang lulusan sedangkan lainnya mengikuti kegiatan secara daring. Pelantikan secara luring dilaksanakan di Ruang Drost Gedung Utama Kampus 3 USD Paingan.

Rektor USD, Johanes Eka Priyatma mengatakan, dalam situasi dilematis seperti ini, apoteker baru perlu menetapkan prioritas, dan terbuka dengan berbagai gagasan baru. Prioritas itu adalah terjaganya kesehatan individu dan masyarakat khususnya dari paparan virus corona.

“Sudah saatnya bidang farmasi melakukan optimalisasi sistem. Bukan semata soal teknologi tapi tujuannya agar layanan farmasi semakin terjangkau,” kata Johanes saat menyampaikan sambutan.

Sampai dengan saat ini, USD telah meluluskan 2.965 apoteker. Dia pun berpesan kepada para alumni agar selalu menghidupi nilai dasar USD.

“Tingkatkan kinerja apoteker Indonesia dengan memulainya dari diri sendiri,” ucapnya.


Pada kesempatan ini diberikan penghargaan kepada tiga wisudawan berprestasi. Masing-masing menerima penghargaan Dexa Award, Novell Award, dan USD Award. Beberapa wisudawan pun sudah ada yang mendapat pekerjaan.
Dekan Fakultas Farmasi USD, Yustina Sri Hartini menambahkan, mahasiswa fakultasnya aktif dalam kegiatan akademik maupun non akademik. “Selain perkuliahan, mahasiswa juga melakukan kunjungan, praktik kerja maupun magang di rumah sakit, industri farmasi, puskesmas, apotek, dan PBF,” tuturnya.

Pada acara pelantikan itu, Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY Nanang Munif Yasin menyampaikan pesan kepada para apoteker baru agar berpegang teguh pada sumpah ketika nantinya berpraktik. Banyak tantangan yang akan dihadapi termasuk persaingan dengan tenaga kesehatan asing, persaingan pemilik modal, dan perang inovasi IT.

Selain menghadapi ancaman asing, banyak tantangan intern yang dihadapi seperti kualitas SDM, problem sistem JKN, dan berbagai masalah di bidang kefarmasian seperti vaksin palsu, obat ilegal, kosmetik racikan, dan obat kadaluwarsa.
Di sisi lain, munculnya peraturan baru menuntut apoteker siap berstrategi. Contohnya adalah Peraturan Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Kesehatan, dan draf peraturan terkait e-pharmacy, dan RUU BPOM yang menunggu pengesahan.

“Apoteker baru harus memiliki bekal yang istimewa. Salah satunya berupa skill, inovatiuon, attitude, dan professional,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan