60 Tenaga Medis Jalani Rapid Test Covid-19

MAGELANG, SM Network – Pemkot Magelang melangsungkan rapid test (tes cepat) Covid-19 kepada 60 orang tenaga medis dan perawat seluruh Puskesmas di Kota Magelang. Tes dilaksanakan di RSUD Budi Rahayu Kota Magelang, Rabu (15/4).

Direktur RSUD Budi Rahayu, Ari Meliyanti mengatakan, total ada 60 tenaga medis dan perawat di Puskesmas yang mengikuti tes cepat Covid-19 ini dari total 100 orang yang akan dites. Adapun sisanya sebanyak 40 orang rencana akan dites pada Jumat (17/4).

“Rapid test ini memang kita khususnya bagi teman-teman kami di Puskesmas yang kontak erat dengan orang positif Covid-19, pasien dalam pengawasan (PDP), dan yang beresiko tinggi terpapar. Sementara prioritas tenaga medis dan perawat dulu,” ujarnya di sela meninjau pelaksanaan rapid test.

Dia menuturkan, setelah pelaksanaan tes cepat ini selesai, direncanakan akan ada tes cepat lagi untuk keluarga atau orang-orang yang kontak erat dengan positif Covid-19 atau PDP yang dirawat. Adapun total tenaga medis yang kontak erat dengan PDP sekitar 30 orang.

“Hasil tes sebenarnya cepat bisa terlihat di alat. Alatnya seperti tes kehamilan, kalau satu garis berarti negatif, sedangkan dua garis positif. Namun, untuk hasil secara keseluruhan, kami akan konsultasikan dulu dengan dokter patologi. Kemudian bisa kita umumkan hasil resminya,” katanya.

Sementara itu, Perawat Gigi di Puskesmas Magelang Selatan, Sri Liana mengaku, sangat menyambut baik adanya rapid test Covid-19 ini. Hal ini membuatnya terbantu dengan memastikan kondisi tubuhnya apakah terpapar virus korona atau tidak.

“Tes ini yang kami tunggu sebenarnya, karena kami yang paling beresiko terpapar. Meski dalam tugas kami selalu merasa mantap, dengan adanya rapid test ini kami lebih mantap lagi,” akunya.

Sri mengungkapkan, sebagai perawat gigi ia selalu mengedepankan keamanan. Oleh karena itu, setiap kali memeriksa pasien ia selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap mulai dari pakaian, masker, hingga pelindung wajah.

Saya kan perawat gigi, tentu paling beresiko, karena ketika memeriksa pasien harus membuka mulutnya. Otomatis, untuk saat ini kami harus memakai APD lengkap demi keamanan dari virus itu,” jelasnya.


Asef Amani

Tinggalkan Balasan