55 Wartawan Meninggal karena COVID-19, Duka di Hari Kebebasan Pers

SM Network – Seorang wartawan muda meninggal di Rusia pada 24 Maret lalu. Namanya Anatasia Petrova. Namun,  pemerintah Rusia mengeluarkan pengumuman mengejutkan dua hari kemudian. Dikatakan bahwa penyebab kematian pemimpin redaksi mingguan bisnis Delovoy Interes itu adalah infeksi Covid-19.

Berbagai kritik terhadap pemerintah Rusia berhamburan karena hal itu. Pemerintah dituduh menyembunyikan informasi kematian sang wartawan.

Anastasia Petrova dilarikan ke rumah sakit pada 24 Maret 2020 dengan gejala pneumonia. Otoritas kesehatan setempat mengatakan diagnosis tentang penyakitnya belum rampung hingga dua hari setelah kematiannya.

Anatasia Petrova adalah satu dari 55 wartawan di seluruh dunia yang meninggal karena Covid-19, menurut siaran pers Press Emblem Campaign (PEC), organisasi swadaya masyarakat yang berpusat di Jenewa. Di hari Kebebasan Pers Dunia hari ini, 3 Mei 2020, ini merupakan informasi menyedihkan tentang profesi jurnalis.

Menurut siaran pers PEC, sebanyak 55 pekerja media yang meninggal itu berasal dari 23 negara. Belum diketahui dengan jelas apakah mereka terinfeksi di saat mereka bekerja atau karena hal lain.

Di laman resmi PEC, kita dapat melihat nama-nama wartawan dari seluruh dunia yang telah berpulang karena Covid-19. Misalnya, dari Amerika Serikat ada Anick Jesdanun, deputi editor teknologi The Associated Press, yang meninggal di New York City pada 4 April lalu karena komplikasi yang terkait dengan Covid-19.

Masih dari Amerika Serikat, pada 31 Mei 2020 veteran jurnalis CBS, Maria Mercader, juga dilaporkan meninggal dunia karena Covid-19. Ia meninggal di rumah sakit pada usia 54.

Di Zimbabwe, Zoroko Makamba meninggal pada usia 30 tahun juga karena Covid-19. Makamba dikenal karena kolomnya dengan tajuk State of the Nation. Ia merupakan korban meninggal pertama karena Covid-19 di negaranya.

Sementara itu kameramen Itali, Paolo Micai, meninggal dunia pada usia 60 tahun. Wartawan profesional itu yang bekerja untuk Mediaset, dirawat di rumah sakit selama 15 hari. Selanjutnya ia sempat mendapat penanganan darurat di beberapa rumah sakit.

“Hari ini televisi ini mengumumkan perginya salah satu profesional kami yang andal,” demikian pernyataan presiden dari Liguria Region, Giovanni Toti, pada 24 Maret lalu.

Dari Spanyol, 21 Maret lalu dua jurnalis olah raga yang populer di negara itu, JOse Maria Candela dan Tomas Diaz Valdes, meninggal dunia karena Covid 19. Candela berusia 59 tahun sedangkan Valdes berusia 78 tahun.

Menurut PEC, organisasi swadaya masyarakat yang didirikan oleh para jurnalis, pekerja media sering tidak memperoleh perlindungan yang tepat ketika melakukan liputan atas pandemi ini.

Para wartawan itu berada pada posisi bahaya untuk melaporkan krisis akibat pandemi ini karena mereka sering harus bepergian ke tempat-tempat yang rentan terpapar.

“Wartawan menghadapi risiko besar dalam krisis kesehatan ini karena mereka harus terus memberi informasi, dengan pergi ke rumah sakit, mewawancarai dokter, perawat, pemimpin politik, spesialis, ilmuwan, pasien,” kata PEC dalam pernyataanya.

Di banyak negara, mereka tidak mendapat langkah-langkah perlindungan yang diperlukan seperti menjaga jarak fisik, atau masker, terutama pada tahap awal pandemi.

Negara yang paling banyak kehilangan wartawan adalah Ekuador. Sedikitnya sembilan wartawan negara itu yang meninggal karena Covid-19. Di Amerika Serikat, delapan wartawan meninggal karena Covid-19, di Brasil, empat wartawan dan di Inggris dan Spanyol masing-masing tiga wartawan.

Tantangan lain bagi wartawan di masa krisis ini ialah tentang perlindungan terhadap wartawan dalam mengakses informasi dan menjalankan tugasnya untuk memperoleh informasi tersebut.

Hal ini juga telah disuarakan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) lewat Dewan Hak Asasi Manusia. Komisioner PBB untuk HAM, Michelle Bachelet dalam keterangan informal di kantornya belum lama ini menekankan pentingnya hak politik dan hak sipil masyarakat dihormati selama pandemi ini.

Menurut dia, langkah-langkah darurat memang diperlukan dalam merespons kedaruratan di bidang kesehatan publik. Tetapi kedaruratan tersebut bukan blanko kosong untuk mengabaikan kewajiban HAM.

Langkah-langkah darurat harus sesuai dengan kebutuhan, Masyarakat harus mendapat informasi tentang langkah-langkah darurat tersebut dan seberapa lama itu dilakukan.

PEC menggemakan lagi apa yang dikatakan oleh Michelle Bachelet. Pandemi Covid-19, yang telah menewaskan lebih dari 230.000 orang dari lebih dari 3,2 juta yang terinfeksi di seluruh dunia, menurut organisasi ini kerap menjadi dalih beberapa negara untuk menindak media.

“Penyensoran, penutupan internet, penahanan sewenang-wenang terhadap jurnalis, serangan fisik dan verbal, dan undang-undang darurat yang membatasi kebebasan pers telah terjadi dalam beberapa pekan terakhir,” kata PEC.

Ditambahkan bahwa hal tersebut sangat mengkhawatirkan pada saat akses ke informasi publik yang dapat diandalkan lebih penting daripada sebelumnya.

“Transparansi adalah yang terpenting dan dapat menyelamatkan nyawa dalam krisis kesehatan,” kata siaran pers itu. Selamat merayakan Hari Kebebasan Pers Dunia kepada seluruh wartawan di mana pun berada.


SM Network/Viva

1 Komentar

  1. 360890 476939I besides believe therefore , perfectly composed post! . 425865

Tinggalkan Balasan