30 Sekolah di Sleman Dijadikan Alternatif Barak

SLEMAN, SM Network – Wabah Covid-19 memaksa pemerintah daerah mencari alternatif lokasi barak bagi pengungsi Merapi. Sebab di tengah kondisi pandemi, kapasitas barak dikurangi menjadi separo. Di Sleman, pemkab setempat telah menyiapkan setidaknya 30 gedung sekolah sebagai barak alternatif. Lokasinya tersebar di Kapanewon Pakem sebanyak 12 sekolah, Cangkringan 11 sekolah, Ngemplak 5, dan Turi 2.

“Tiga puluh sekolah itu ada dibawah kewenangan kami, mulai dari jenjang TK sampai SMP. Kalau SMA dan madrasah, bukan ranah kami,” terang Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana, Senin (16/11).

Data sekolah itu merupakan usulan dari BPBD. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di masing-masing kecamatan juga sudah menindaklanjuti untuk fasilitasi. Sebelum difungsikan menjadi barak, pihaknya berharap ada pembuatan nota kesepahaman antara sekolah dan pemerintah desa.

Poin kesepakatan itu diantaranya mengatur tentang ruang yang bisa digunakan, penanganan keamanan aset, dan sanitasi. Mengingat, tidak semua ruangan dapat difungsikan untuk barak seperti ruang penyimpanan aset, dan kantor kepala sekolah.

“Pada dasarnya, kami mendukung penggunaan gedung sekolah untuk barak. Di sekolah pun sudah lengkap sarana protokol kesehatannya seperti wastafel dan MCK,” kata Ery.

Dia menambahkan, gedung sekolah bisa digunakan sebagai barak sepanjang dibutuhkan selama periode tanggap darurat bencana. Namun sejauh ini, baru ada satu sekolah yang dijadikan barak yakni SD Muhammadiyah Cepitsari, yang lokasinya bersebelahan dengan barak Glagaharjo di Kapanewon Cangkringan.

Alternatif barak itu dipetakan untuk antisipasi apabila daerah rawan bencana diperluas hingga radius 9 km. Pihaknya juga sudah meminta laporan kepada UPTD di Kecamatan Cangkringan, Pakem, dan Turi terkait data siswa yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Sementara itu, ikhwal pelaksanaan kegiatan belajar di tempat pengungsian, Ery menyebut tidak ada kendala. Siswa justru terbantu karena di lokasi barak disediakan fasilitas wifi yang memadai. “Dari pendataan kami, tidak ada sekolah yang masuk dalam radius 5 kilometer dari puncak Merapi. Hanya saja ada lima siswa SD yang tinggal di Kalitengah Lor dan ikut mengungsi,” beber Ery.

Kelima siswa itu berasal dari SDN Srunen, SDN Glagaharjo, dan SD Muhammadiyah Cepitsari. Untuk mendukung proses pembelajaran, guru juga diinstruksikan untuk rutin menyambangi siswa di barak. Sehingga kegiatan belajar-mengajar tidak hanya dilaksanakan secara daring tapi juga luring.

“Kami juga sudah berpesan kepada guru agar anak-anak tidak dipaksa, sesuaikan dengan sikon. Walaupun sarana prasarana tidak ada kendala, tapi kondisi di barak mungkin tidak kondusif untuk konsentrasi belajar karena banyak orang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan