14 Tahun Akrab Dengan Bencana

MUNGKID, SM Network – Pria kelahiran 5 Juli 1962 ini, merupakan sosok yang akrab dibalik bencana sejak 14 tahun silam, Edi Susanto. Pada tahun 2006 pernah menjabat sebagai Kepala Kesbanglimas, setelah menjabat diberbagai OPD di Pemerintah Kabupaten Magelang, kini ia menjabat sebagai Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang. Edi merasa senang dapat membantu banyak orang.

“Dan itu saya berpikir membahagiakan saya, karena selain bisa membantu banyak orang teman saya juga banyak,” paparnya.

Ketika terjadi bencana, hatinya berdencing untuk bergerak. Hal pertama yang harus dilakukannya yaitu berkoordinasi dengan tim untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya. Edi beranggapan bahwa relawan di Kabupaten itu sangat luar biasa.

“Kami ada karena relawan, walaupun kemudian orang mengatakan BPBD sudah bergerak itu karena relawan. Mereka yang ada di depan,” ujar Edi.

Menurutnya, semua itu harus ada yang mengkoordinir. Sebab jika kekuatan banyak tetapi tidak ada yang mengkoordinir atau mengkomando efektifitasnya akan menjadi lebih rendah. “Oleh karena itu diperlukan managemen yang baik untuk mengelola semua sumber daya manusia termasuk sumber daya dana agar terarah,” ungkapnya.

Jadi managerial menentukan kita akan seperti apa, lanjut Edi, oleh karena itu BPBD tampil dengan tiga fungsi yaitu fungsi koordinasi, komando, dan pelaksana. Kendala yang sering dihadapi saat di lapangan sendiri ada pada peralatan yang kurang, sebab bencana sangat beragam. “Seperti sekarang ini menghadapi tantangan sampah-sampah hutan, dongklak bambu dan dongklak pohon yang lain yang turun menjadi tidak mudah untuk diselesaikan,” jelas Edi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya berkoordinasi dengan pihak lain seperti Damkar yang memiliki peralatan saat dibutuhkan contohnya alat pemotong beton. “Kita paham kebutuhan pemerintah daerah itu banyak sekali, karena itu kita berkoordinasi dengan yang punya yaitu Damkar.

Jadi ketika kita mengetahui kekurangan, tantangan itu kalo kita bisa selesaikan kita selesaikan,” ujar Edi. Disamping BPBD mengkoordinir para relawan, pihaknya juga harus bisa mengkoordinir dana dalam mencukupi kebutuhan para korban saat terjadi bencana. “Saya tidak ingin mengeluh dan itu faktanya bisa kita diselesaikan secara bersama-sama,” terang Edi.

Ia juga merasa beruntung bahwa keluarganya bisa memahami pekerjaannya, yang terkadang mengharuskannya untuk pulang malam atau tidur di lokasi bencana. “Alhamdulillah anak dan istri saya sangat memahami pekerjaan saya,” ungkapnya. Edi juga menceritakan pengalamannya ketika bencana akan terjadi. “Ketika bencana akan terjadi, pasti saat akan pergi dinas ke luar kota. Dan itu ada saja halangan seperti kunci ketinggalan, atau ada lah hal seperti mengulur waktu. Ternyata setelah beberapa saat ternyata ada laporan terjadi bencana,” papar Edi.


Dian Nurlita

Tinggalkan Balasan