132.000 Keluarga Wonosobo Beresiko Stunting

WONOSOBO, suaramerdekakedu.id – Pemerintah daerah menargetkan angka prevalensi kasus stunting di Wonosobo menjadi 10 persen pada 2024 mendatang. Dalam upaya penurunan tersebut, Dinas PPKBPPPA berupaya keras untuk melakukan pencegahan, salah satunya fokus pada keluarga berisiko stunting.

Kategori keluarga berisiko stunting adalah yang memiliki anak balita, keluarga dengan ibu hamil. Selain itu juga keluarga yang memiliki anak remaja, yang mana merupakan calon pengantin (catin) dan ibu yang baru melahirkan atau sedang dalam masa nifas.

Read More

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyedia Data Keluarga Berisiko Stunting Hidayati menjelaskan saat ini tercatat ada 132.863 keluarga berisiko stunting di Wonosobo. Pihaknya juga telah membentuk Tim Pendamping Keluarga (TPK), yang terdiri dari bidan atau nakes lain, penggerak PKK dan kader KB.Â

“Kami memiliki kepanjangan tangan TPK yang di Wonosobo jumlahnya ada 678 tim. TPK ini nanti akan mendampingi keluarga berisiko stunting untuk pencegahan,” kata Ida yang ditemu di kantor DPPKBPPPA, kemarin.Â

Ida memaparkan tiga bulan sebelum menikah, calon pengantin perlu dilakukan pendampingan. Catin wajib melaporkan data kesehatannya mulai dari usia, berat badan, tinggi badan, tekanan darah, lingkar lengan atas (lila) dan apakah pasangan pria merokok atau tidak melalui aplikasi Elsimil.

“Dari aplikasi tersebut akan terlihat apakah catin ideal atau termasuk berisiko dengan indikator lila kurang dari 23,5, anemia, indeks masa tubuh kurang dari 18,4 kg dan apakah sudah cukup umur. Nanti hasil dari tes itu diprint dan berkasnya disertakan ke KUA sebagai syarat menikah,”jelasnya.

Sedangkan untuk pendampingan pada ibu hamil akan dipantau apakah sudah rutin minum tablet penambah darah, bagaimana asupan makanannya dan melakukan pemeriksaan minimal enam kali. ” Ditinjau juga apakah dia menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK). Ini kita pantau terus agar bayi yang dilahirkan tidak stunting,” kata Ida menekankan.

Untuk masa pasca persalinan, lanjut Ida, ibu nifas akan diminta untuk memilih KB yang tepat. Sebab dikhawatirkan akan memiliki anak dengan jarak yang berdekatan, dan tidak maksimal dalam pemberian ASI.” Padahal masa periode emas pertumbuhan anak ada pada 1000 hari kehidupan atau sampai anak paling tidak berusia dua tahun,” kata Ida.Â

Ida juga menekankan pada pola asuh pada 1000 hari pertama kehidupan. Anak usia bawah dua tahun (baduta) akan dipantau berat badan, tinggi badan, mengikuti posyandu, asi eksklusif dan imunisasinya.

Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT)
Program dari BKKBN pusat ini pernah diterapkan di Desa Surengedhe pada Oktober hingga Desember tahun lalu. DAHSAT diklaim berhasil dalam menurunkan angka stunting di desa tersebut.

Perangkat desa beserta warga bergotong royong menyediakan makanan bergizi selama 90 hari untuk baduta, ibu baduta dan ibu hamil yang menderita KEK. ” Setelah tiga bulan hasilnya luar biasa, dari 18 anak menjadi 16 yang stunting. Ibu hamil ada 6 yang tuntas dari stunting,” jelas Ida.

Menurutnya stunting juga bisa dicegah dengan pola asuh dengan mengedukasi keluarga berisiko stunting akan pentingnya makanan bergizi. Selain itu juga dengan melakukan audit dan pembedahan kasus stunting.

Related posts

Leave a Reply