100 Ustad Ponpes Pandanaran Jalani Tes Swab

SLEMAN, SM Network – Swab massal terhadap pengajar pondok pesantren (ponpes) mulai dilaksanakan oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman, Rabu (29/7). Tes diadakan di Ponpes Sunan Pandanaran, Ngaglik dengan sasaran 100 ustad dan ustadzah.

Dipilih Sunan Pandanaran sebagai representasi ponpes di Sleman wilayah tengah karena dalam waktu dekat, tempat pendidikan berasrama itu akan kembali beroperasi tepatnya pada awal bulan Agustus. “Kami telah menerbitkan rekomendasi aman Covid-19 untuk tiga ponpes termasuk Pandanaran. Sebenarnya banyak yang mengajukan sekitar 50 pondok dan semua sudah kami kunjungi tapi kebanyakan masih ada kekurangan terkait penyediaan ruang karantina,” beber Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Joko Hastaryo ditemui disela swab massal di Ponpes Pandanaran, Rabu (29/7).

Tim Dinkes bahkan telah dua kali melakukan cek fisik lapangan. Dari hasil pengecekan, Ponpes Pandanaran dinilai sebagai salah satu yang paling siap untuk beroperasi di masa pandemi. Selain memiliki satgas Covid-19 intern, pondok ini juga memiliki ruang karantina yang memadai.

Uji swab ini, menurut Joko, dimaksudkan sebagai pemetaan perkembangan kasus Covid-19 khususnya di tempat yang potensial terjadi penularan. Jika nantinya ditemukan kasus positif, Pemkab Sleman tetap mengacu kebijakan isolasi di rumah sakit.

“Kami belum menerapkan pedoman Kemenkes yakni pasien positif tanpa gejala cukup diisolasi di rumah. Kalau ada yang positif, tetap diisolasi di rumah sakit dan dilakukan tracing kontak erat,” ujar Joko. Normalnya, butuh waktu sekitar 3 hari untuk mengetahui hasil tes swab. Namun karena kondisi laboratorium sedang penuh, kemungkinan butuh 7-10 hari. Selama menunggu proses uji lab, peserta tetap dikarantina di kompleks sampai dengan hasil swab keluar.

Dewan Pengasuh Ponpes Pandanaran, Azka Sya’bana menambahkan, ustad yang diuji swab dipilih yang berasal dari luar daerah. “Begitu mendapat informasi rencana uji swab, kami langsung menyiapkan peserta dan tempat. Jatahnya seratus orang untuk pengajar,” ucap Gus Azka.

Jumlah pengajar di pondok tersebut hampir 900 orang dimana 475 diantaranya berasal dari luar DIY. Lantaran jatah swab massal hanya 100 orang, untuk sementara yang lainnya belum diperbolehkan mengajar di ponpes. Ustad dan ustadzah boleh mengajar jika sudah mengikuti tes swab atau karantina atau telah memiliki surat rapid test atau surat keterangan sehat.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan